PKS Update
Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Balada Kisah Aleg PKS
Kamis, 28 Februari 2013 | 00.07
Dari sumber aslinya di dewan…. Ustad Zaenal Haq
Ikhwah fillah…
Sejak menjadi Aleg PKS DPRD Kaltim hingga sekarang, ana sering sekali menerima sms dan telpon baik yang memberikan dukungan, respon positif hingga pujian setinggi langit maupun yang mengkritik, menyampaikan kekecewaanhingga yang mencaci maki dengan sumpah serapah.. Tapi semua itu tetap ana terima dengan baik dan direspon dengan santun dan penuh kesabaran khususnya bagi yang menyampaikan kritik dan kekecewaannya kpd kita.. tak jarang hasilnya menjadi berbalik.. yang bersangkutan jadi faham dan mendukung setiap langkah dakwah kita termasuk di parlemen dan pemerintahan.
Salah satu contoh dari sms dengan seorang sahabat lama ana dari fakultas sastra Unhas yang ternyata sudah bergabung dengan Jama’ah Tabligh (JT) di kotanya.. Suatu waktu dia tugas khuruj (semacam jaulah dakwah dalam istilah kita) di Kalimantan Timur di daerah Kutai Kertanegara. Kemudian dia sama ana dalam bentuk epilog (maklum sastrawan) sbb:
“Balada Sang Jubah di Sungai Mahakam” Danau Semayang Bagai Samudera terhampar, air mahakam mengalir tenang kecoklatan, rumah panggung berjejer dipinggiran, perahu ketinting saling berseliweran.. Danau semayang dihuni suku Banjar, ikan pesut melompat gesit bagai gesitnya manusia sungai Kutai Kertanegara. Indahmu tersembunyi dan disembunyikan.. kami telah datang dan masyarakat menyambut bagai seorang saudara yang telah lama hilang.. anak-anak berkerumun seperti sedang melihat penjual obat.. Sang Jubah melangkah ke Masjid diantar orang-orang tua.. risih rasanya berjabat tangan karena mereka mencium tangan padahal mereka adalah lebih tua dari kami.. Kutanya pada mereka.. apa ada yang datang berdakwah agama di sini?? jawab mereka tak ada yang berdakwah atau kajian.,., yang ada orang datang menawarkan Partai saja.. padahal mereka juga Ustadz katanya.. Astaghfirullah… “
Kemudian ana jawab sms dia dengan epilog dari kisah aleg kita di Kutim sbb:
“Perjalanan Dakwah Sang “Pejabat Miskin”…. Sepanjang jalan yg ada hanya padang ilalang yg menyelimuti lahan tandus bekas tambang batu bara sebuah perusahaan PKP2B di Kutai Timur…. Konon 5 thn lalu padang itu masih berupa hutan lebat dgn kicau burung enggang yg riang bersahutan.. Sepanjang jalan berkubang lumpur dan lobang menganga tak bersahabat dgn kendaraan yg melewatinya… Desa Tepian Indah sebuah desa transmigrasi yg penduduknya hidup miskin… Bertahun2 mrk seperti dibuang dan dipenjara… Jalan masuk desanya sepanjang 6 km tak bisa dilewati roda 4 biasa kecual dobel gardan.. Sang Pejabat yg berpakaian koko kumuh mencoba menjangkau desa tepian indah tapi kelihatan jorong krn berkubang lumpur… Stlh 2 jam berjalan kaki Sang Pejabat akhir sampai di desa itu dan langsung menuju masjid untuk sholat magrib. Masyarakat sdh menunggu dgn antusias dan bertanya kpd Sang Pejabat… Apa bapak Pejabat itu tdk jadi datang ya Pak krn mobilnya tak bisa masuk? Org yg ditanya itu malah bingung lalu dia memperkenalkan diri… Masyarakat pun termagu dan heran kok ada Pejabat mau susah payah menemui mrk pdhl hy diundang untuk ceramah magrib-isya.. Selesai ceramah Sang Pejabat minta izin tidur di masjid krn gelap malam tak bersahabat jika hrs pulang lagi.. Masyarakat tepian indah pun terharu kok ada Pejabat mau tidur di masjid kayu yg dingin beralas tikar plastik tanpa selimut… Mereka tdk bisa membantu krn dirumah mrk jg seperti itu… Sang Pejabat pun tertidur dgn pulas dgn nyanyian jengkrik dan siulan burung malam nanti syahdu…. Pejabat itu seorang anggota dewan dari sebuah partai dakwah… “
Kemudian dia membalas sbb:
“Tak kami sangkah, ternxata ada juga Da’i yg tangguh di PKS, tadinx kami kira cuma
“Ikon saja” pake ” Markas Da’wah segala” karena Da’i itu hrs ada Pengorbanan, Mujahadah di medan Da’wah, bukan yg hx jago ceramah di Masjid perkotaan yg jalanx aspal hotmix yg masjidnx pake lantai mar mar. Sy jdi takjub…krn rata2 yg sy jumpai bila mereka pejabat tiba2 ferformax berubah jadi ” Elitis, protokoler dn jumawa”. Sy berdecak kagum.”
Ana jawab lg sms di atas sbb:
“Sebenarx ada seribu kisah seperti dr kader2 PKS di lembaga pemerintahan. Cuma kita urung mengangkatnya ke permukaan krn takut pahalanya berkurang atau malah bisa hilang… Mungkin pernah baca buku kumpulan kisah pejabat publik asal PKS dlm Buku “Bukan di Negeri Dongeng” ?? Di bbrp blog sy temukan ada byk kisah tauladan dr kader PKS baik punya jabatan publik maupun yg jadi rakyat biasa.. Ada kisah Aleg PKS di lampung yg bertahun2 mengisi pengajian di suatu perkampungan nelayan tapi masyarakat di sana tak tahu kalau ustadz itu seorg aleg krn penampilannya yg sgt sederhana dan dtg di tempat pengajian dgn sepeda motor butut. Ada aleg PKS di kerawang yg juga turun bersawah bersama petani dikampungnya dr sawah warisan org tuanya… Stp sabtu dan ahad manggul pacul ke sawah dan sekaligus menjadi ketua kelompok tani mandiri di desanya… Di kaltim semua Aleg PKS ttp tdk bisa punya rumah dan mobil pribadi kecuali rumah kontrakan dan mobil dinas kantor smntr aleg lain sdh bisa punya lbh dr satu rumah dan mobil pribadi… Aleg PKS ttp manusia biasa yg tdk sempurna dan tentu sj ada selalu ada kekurangan… Mrk sdh berdakwah di tempat kerjanya semampu yg mrk bisa dan itu sdh mengurangi sedikit kemaksiatan di lembagax yg dulu sgt merajalela tanpa kehadiran mereka.. Mrk sdh menambah sedikit kebaikan untuk umat yg dulu kebaikan itu suatu yg sgt “mahal” terjadi di sana… Apakah dakwah itu sebuah permainan sulap yg bisa merubah suatu keburukan menjadi kebaikan sekali tiup?? Dakwah di parlemen yg bergantung nasib umat padanya perlu waktu dan kerja keras untuk memperbaikinya.. Dan aleg PKS tanpa dukungan umat tdk bisa bekerja sendirian melakukan itu…”
Kemudian dia sms lg sbb:
“Wah,sy baru tahu kalau PKS bxk Da’i2 nx yg tangguh dn Ihklas, krn di daerah sy Aleg PKS pake Blazer dn penampilanx Elitis sekali jg Rmh megah…tpi Alhamdulillah krn mrk bs lebih baik kehidupanx, memang sy sedikit skali reverensi PKS, Walau Tamzil Lindrung sy kenal baik,tp sy tdk pernah tanxa soal PKS… “
Ana jawab lagi sbb:
“Seperti yg sy sdh sampaikan sblmnya bhw aleg PKS adalah ttp manusia biasa, ada sj kekurangan dan kelemahan yg melekat padanya.. Ada yg keikhlasannya sgt tinggi ada jg yg msh sdkt pamrih… Ada yg ttp hidup sederhana dan merakyat tapi juga kita akui ada yg mencoba sdkt berubah agak “lebih baik” dr tingkat kehidupannya sblmnya. Tapi dlm pantauan Badan Legislasi (Baleg) dan Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO) DPP PKS yng mengawasi kinerja dan performance pejabat publik asal PKS, scr umum pola hidup aleg PKS dan pejabat walikota/bupati/gubernur/menteri asal PKS msh dlm tingkat wajar dlm artian blm termasuk dlm pola hidup berlebih2an.. Kalau di Kaltim tdk ada aleg PKS yg punya Blazer kecuali itu modil dinas kantor…”
Terakhir dia sms sbb:
“Saya doakan semoga PKS tetap menjadi Partai Dakwah.. saya salut dan tak terasa saya mensngis membaca sms saudaraku ini.. Rupanya masih istiqomah seperti kala di kampus dulu.. Saya akan bantu PKS menang dalam Pemilu ini agar nasib Ummat bisa lebih baik…
Wassalam
Itu salah satu sms-smsan ana dengan teman lama dan akhirnya mau membantu kita memenangkan Partai Dakwah kita.. Allahu Akbar…
Sumber : http://abiwin.wordpress.com
Ikhwah fillah…
Sejak menjadi Aleg PKS DPRD Kaltim hingga sekarang, ana sering sekali menerima sms dan telpon baik yang memberikan dukungan, respon positif hingga pujian setinggi langit maupun yang mengkritik, menyampaikan kekecewaanhingga yang mencaci maki dengan sumpah serapah.. Tapi semua itu tetap ana terima dengan baik dan direspon dengan santun dan penuh kesabaran khususnya bagi yang menyampaikan kritik dan kekecewaannya kpd kita.. tak jarang hasilnya menjadi berbalik.. yang bersangkutan jadi faham dan mendukung setiap langkah dakwah kita termasuk di parlemen dan pemerintahan.
Salah satu contoh dari sms dengan seorang sahabat lama ana dari fakultas sastra Unhas yang ternyata sudah bergabung dengan Jama’ah Tabligh (JT) di kotanya.. Suatu waktu dia tugas khuruj (semacam jaulah dakwah dalam istilah kita) di Kalimantan Timur di daerah Kutai Kertanegara. Kemudian dia sama ana dalam bentuk epilog (maklum sastrawan) sbb:
“Balada Sang Jubah di Sungai Mahakam” Danau Semayang Bagai Samudera terhampar, air mahakam mengalir tenang kecoklatan, rumah panggung berjejer dipinggiran, perahu ketinting saling berseliweran.. Danau semayang dihuni suku Banjar, ikan pesut melompat gesit bagai gesitnya manusia sungai Kutai Kertanegara. Indahmu tersembunyi dan disembunyikan.. kami telah datang dan masyarakat menyambut bagai seorang saudara yang telah lama hilang.. anak-anak berkerumun seperti sedang melihat penjual obat.. Sang Jubah melangkah ke Masjid diantar orang-orang tua.. risih rasanya berjabat tangan karena mereka mencium tangan padahal mereka adalah lebih tua dari kami.. Kutanya pada mereka.. apa ada yang datang berdakwah agama di sini?? jawab mereka tak ada yang berdakwah atau kajian.,., yang ada orang datang menawarkan Partai saja.. padahal mereka juga Ustadz katanya.. Astaghfirullah… “
Kemudian ana jawab sms dia dengan epilog dari kisah aleg kita di Kutim sbb:
“Perjalanan Dakwah Sang “Pejabat Miskin”…. Sepanjang jalan yg ada hanya padang ilalang yg menyelimuti lahan tandus bekas tambang batu bara sebuah perusahaan PKP2B di Kutai Timur…. Konon 5 thn lalu padang itu masih berupa hutan lebat dgn kicau burung enggang yg riang bersahutan.. Sepanjang jalan berkubang lumpur dan lobang menganga tak bersahabat dgn kendaraan yg melewatinya… Desa Tepian Indah sebuah desa transmigrasi yg penduduknya hidup miskin… Bertahun2 mrk seperti dibuang dan dipenjara… Jalan masuk desanya sepanjang 6 km tak bisa dilewati roda 4 biasa kecual dobel gardan.. Sang Pejabat yg berpakaian koko kumuh mencoba menjangkau desa tepian indah tapi kelihatan jorong krn berkubang lumpur… Stlh 2 jam berjalan kaki Sang Pejabat akhir sampai di desa itu dan langsung menuju masjid untuk sholat magrib. Masyarakat sdh menunggu dgn antusias dan bertanya kpd Sang Pejabat… Apa bapak Pejabat itu tdk jadi datang ya Pak krn mobilnya tak bisa masuk? Org yg ditanya itu malah bingung lalu dia memperkenalkan diri… Masyarakat pun termagu dan heran kok ada Pejabat mau susah payah menemui mrk pdhl hy diundang untuk ceramah magrib-isya.. Selesai ceramah Sang Pejabat minta izin tidur di masjid krn gelap malam tak bersahabat jika hrs pulang lagi.. Masyarakat tepian indah pun terharu kok ada Pejabat mau tidur di masjid kayu yg dingin beralas tikar plastik tanpa selimut… Mereka tdk bisa membantu krn dirumah mrk jg seperti itu… Sang Pejabat pun tertidur dgn pulas dgn nyanyian jengkrik dan siulan burung malam nanti syahdu…. Pejabat itu seorang anggota dewan dari sebuah partai dakwah… “
Kemudian dia membalas sbb:
“Tak kami sangkah, ternxata ada juga Da’i yg tangguh di PKS, tadinx kami kira cuma
“Ikon saja” pake ” Markas Da’wah segala” karena Da’i itu hrs ada Pengorbanan, Mujahadah di medan Da’wah, bukan yg hx jago ceramah di Masjid perkotaan yg jalanx aspal hotmix yg masjidnx pake lantai mar mar. Sy jdi takjub…krn rata2 yg sy jumpai bila mereka pejabat tiba2 ferformax berubah jadi ” Elitis, protokoler dn jumawa”. Sy berdecak kagum.”
Ana jawab lg sms di atas sbb:
“Sebenarx ada seribu kisah seperti dr kader2 PKS di lembaga pemerintahan. Cuma kita urung mengangkatnya ke permukaan krn takut pahalanya berkurang atau malah bisa hilang… Mungkin pernah baca buku kumpulan kisah pejabat publik asal PKS dlm Buku “Bukan di Negeri Dongeng” ?? Di bbrp blog sy temukan ada byk kisah tauladan dr kader PKS baik punya jabatan publik maupun yg jadi rakyat biasa.. Ada kisah Aleg PKS di lampung yg bertahun2 mengisi pengajian di suatu perkampungan nelayan tapi masyarakat di sana tak tahu kalau ustadz itu seorg aleg krn penampilannya yg sgt sederhana dan dtg di tempat pengajian dgn sepeda motor butut. Ada aleg PKS di kerawang yg juga turun bersawah bersama petani dikampungnya dr sawah warisan org tuanya… Stp sabtu dan ahad manggul pacul ke sawah dan sekaligus menjadi ketua kelompok tani mandiri di desanya… Di kaltim semua Aleg PKS ttp tdk bisa punya rumah dan mobil pribadi kecuali rumah kontrakan dan mobil dinas kantor smntr aleg lain sdh bisa punya lbh dr satu rumah dan mobil pribadi… Aleg PKS ttp manusia biasa yg tdk sempurna dan tentu sj ada selalu ada kekurangan… Mrk sdh berdakwah di tempat kerjanya semampu yg mrk bisa dan itu sdh mengurangi sedikit kemaksiatan di lembagax yg dulu sgt merajalela tanpa kehadiran mereka.. Mrk sdh menambah sedikit kebaikan untuk umat yg dulu kebaikan itu suatu yg sgt “mahal” terjadi di sana… Apakah dakwah itu sebuah permainan sulap yg bisa merubah suatu keburukan menjadi kebaikan sekali tiup?? Dakwah di parlemen yg bergantung nasib umat padanya perlu waktu dan kerja keras untuk memperbaikinya.. Dan aleg PKS tanpa dukungan umat tdk bisa bekerja sendirian melakukan itu…”
Kemudian dia sms lg sbb:
“Wah,sy baru tahu kalau PKS bxk Da’i2 nx yg tangguh dn Ihklas, krn di daerah sy Aleg PKS pake Blazer dn penampilanx Elitis sekali jg Rmh megah…tpi Alhamdulillah krn mrk bs lebih baik kehidupanx, memang sy sedikit skali reverensi PKS, Walau Tamzil Lindrung sy kenal baik,tp sy tdk pernah tanxa soal PKS… “
Ana jawab lagi sbb:
“Seperti yg sy sdh sampaikan sblmnya bhw aleg PKS adalah ttp manusia biasa, ada sj kekurangan dan kelemahan yg melekat padanya.. Ada yg keikhlasannya sgt tinggi ada jg yg msh sdkt pamrih… Ada yg ttp hidup sederhana dan merakyat tapi juga kita akui ada yg mencoba sdkt berubah agak “lebih baik” dr tingkat kehidupannya sblmnya. Tapi dlm pantauan Badan Legislasi (Baleg) dan Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO) DPP PKS yng mengawasi kinerja dan performance pejabat publik asal PKS, scr umum pola hidup aleg PKS dan pejabat walikota/bupati/gubernur/menteri asal PKS msh dlm tingkat wajar dlm artian blm termasuk dlm pola hidup berlebih2an.. Kalau di Kaltim tdk ada aleg PKS yg punya Blazer kecuali itu modil dinas kantor…”
Terakhir dia sms sbb:
“Saya doakan semoga PKS tetap menjadi Partai Dakwah.. saya salut dan tak terasa saya mensngis membaca sms saudaraku ini.. Rupanya masih istiqomah seperti kala di kampus dulu.. Saya akan bantu PKS menang dalam Pemilu ini agar nasib Ummat bisa lebih baik…
Wassalam
Itu salah satu sms-smsan ana dengan teman lama dan akhirnya mau membantu kita memenangkan Partai Dakwah kita.. Allahu Akbar…
Sumber : http://abiwin.wordpress.com
Kejahatan REZIM MEDIA !! | by @Iswandisyah
Rabu, 27 Februari 2013 | 20.25
Iswandi Syahputra
@Iswandisyah
*https://twitter.com/Iswandisyah
@Iswandisyah
- Mungkin kalau kuasa media saat ini sudah ada sebelum kemerdekaan, belum tentu kita bisa merdeka.
- Meminjam Baudrillard, media sudah lakukan strategi fatal. Membunuh karakter orang yang belum terbukti bersalah.
- Kejahatan media itu bersifat imun, jahat tapi memiliki kekebalan sosial, karena masyarakat terlanjur candu dengan isi media.
- Kejahatan media itu mirip zat berbahaya dalam mie instan atau rokok, legal dijual, dinikmati secara sah dan masif hingga susah dilawan.
- Kejahatan media itu mirip tato dalam tubuh, awalnya identitas pelaku kriminal perlahan berubah menjadi identitas penikmat seni.
- Kejahatan media itu seperti kerjaan tukang pijet, orang bisa tertidur karena dipijet... Media juga bisa bikin publik tertidur.
- Kejahatan media itu mirip kerja rentenir, awalnya seperti orang baik berikan pinjaman tapi akhirnya bisa mematikan mencekik leher.
- Kejahatan media itu sistematis dan terorganisir. Pelakunya tidak sadar sedang berperan jadi penjahat karena mereka sudah merasa nikmat.
- Kejahatan media itu sangat nyata tapi bersembunyi dibalik topeng kebebasan pers, kebebasan menyampaikan pendapat/ekspresi.
- Kejahatan media itu sah karena dibenarkan oleh hukum dan diterima oleh masyarakat.
- Kejahatan media itu legal karena diatur oleh peraturan. Tidak ada yang bisa melawannya, sekalipun peraturan itu diubah.
- Kejahatan media itu bisa merubah orang saleh menjadi orang salah, mampu merubah tuntunan jadi tontonan.
- Kejahatan media itu seperti dokter yang membawa jarum suntik berisi racun dan siap menyuntik tubuh publik yang tidak berdaya.
- Kejahatan media itu seperti komplotan antar geng, antar mereka bisa saling serang tapi juga bisa menyatu jika identitasnya terganggu.
- Kejahatan media itu seperti kompas rusak, bisa menyesatkan dan menjerumuskan.
- Kejahatan media itu seperti kerja dukun yang memberi mantra, jika dipercaya bisa berbahaya.
- Kejahatan media itu seperti pekerja salon kecantikan, menipu dengan memoles keburukan wajah.
- Kejahatan media itu seperti dokter spesialis bedah, bisa masuk membedah jantung pemirsa.
- Kejahatan media itu seperti junkfood, makanan cepat saji, mengenyangkan tetapi tidak menyehatkan.
- Kejahatan media itu seperti kerja tentara memburu musuh negara, bisa mengepung rumah siapa saja. Siang malam mereka bertahan disana.
- Kejahatan media itu seperti penjaja narkoba, bikin pemirsa kecanduan tidak terkira.
- Kejahatan media itu bahkan bisa menggantikan kedudukan ulama, tanpa fatwa dapat diikuti siapa saja.
- Kejahatan media itu seperti mafia Italia, bisa mengatur skor sepak bola.
- Kejahatan media itu seperti calo tiket KA, terus mencari mangsa padahal tidak kemana-mana.
- Kejahatan media itu seperti pembunuh berdarah dingin, sambil tersenyum tapi dapat mematikan karakter orang.
- Kejahatan media itu tidak bisa dituntut karena medialah penuntut sesungguhnya.
- Kejahatan media itu tidak bisa disidik karena medialah penyidik sesungguhnya.
- Kejahatan media itu tidak bisa digugat, karena medialah penggugat sesungguhnya.
- Kejahatan media tidak bisa dipenjara karena medialah penjara yang sesungguhnya.
- Kejahatan media tidak bisa direkayasa sebab medialah sang maha rekayasa sesungguhnya..
- Kejahatan media tidak bisa diperiksa, karena media paling suka memeriksa. Siapa saja bisa diperiksa media.
- Kejahatan media adalah imperium simulakra dari berbagai produksi hiper-realitas. Tidak ada yang bisa keluar jika sudah masuk dalam jeratnya.
- Karena media maha kuasa tidak bisa digeledah dan diperiksa, maka publiklah yang harus dibangun kesadarannya.
*https://twitter.com/Iswandisyah
Charles K. Palullungan, Nasrani Pengurus PKS Palolo Yang Tak Goyah Fitnah
Masih jelas terngiang dalam ingatanku, meski hampir seminggu berlalu.
Pria paruh baya itu menggunakan batik merah, duduk santun diantara
kerumunan kader dan simpatisan PKS yang berkumpul malam itu
(Selasa,19/2) di aula Bapelkes. Tubuh mungilnya hampir tak terlihat
bahkan mungkin kehadirannya tidak akan aku sadari jika saja ketua DPW
PKS Sulawesi Tengah, Ust. Zainuddin Tambuala tidak mempersilahkannya
berdiri.
“Saya atas nama DPC PKS kecamatan Palolo. Saya selaku sekretaris DPC PKS
kecamatan Palolo. Nama saya Charles K. Palullungan," katanya
memperkenalkan diri sambil mengambil jeda berbicara. Sontak aku
terperangah. Mungkin hanya aku seorang. Selanjutnya ia menyambung lagi.
“Saya seorang nasrani.”kali ini akhir kalimatnya diikuti riuh
tepuktangan dan bias senyum tak percaya. Sementara yang lain, memandang
terpana. Mengikutiku barangkali yang tanpa sadar hanya menggengam erat
kamera tanpa membidikannya, seperti biasanya.
Wajarlah, mereka mungkin baru menyadari kehadiran seorang nasrani di
tengah temu kader tersebut. Bahkan beliau bukan seorang simpatisan, tapi
pengurus DPC PKS. Catat! Dia seorang kader. Sebagian kader pasti
terperangah karena hal ini.
Namun, tidak bagiku. Sejak awal bertemu beliau dalam sebuah kegiatan
jaring aspirasi yang dilakukan aleg DPR RI, Ust Akbar Zulfakar akhir
tahun lalu, aku sudah mengetahui agama yang dianutnya. Akupun sudah
mengetahui bahwa beliau juga kader PKS. Hanya saja, yang lebih membuatku
terperangah adalah keistiqomahannya dalam barisan dakwah yang disebut
PKS ini.
Aku tidak habis pikir, bukankah belum sampai sebulan gembar-bembor
berita kasus dugaan suap impor sapi terhadap Ust, Lutfi Hasan Ishaq
ketika gelaran acara itu dibuat? Apakah beliau tidak melihat seliweran
berita yang membanjiri media cetak maupun eletronik bahkan media online
hampir seminggu dengan headline negatif yang cenderung provokatif bahkan
fitnah? Bukankah bisa saja keyakinannya akan goyah pada PKS?
“Ah menurut saya Lutfi Hasan Ishaq itu hanya korban permainan politik,”
sanggahnya mantap ketika aku akhirnya berkesempatan berbicara secara
langsung dengannya.
Selanjutnya, ia menceritakan awal mula keterlibatannya di PKS.
Menurutnya, sebelum melamar sebagai kader PKS, ia sudah pernah ke
partai-partai lainnya. Namun, tidak ada yang mau menerima. Hingga
meskipun awalnya ragu, ia memberanikan diri untuk masuk sebagai kader
PKS.
“Waktu itu saya bertemu dengan Zainuddian Tambuala. Katanya, kita
(PKS-red) tidak melihat agamanya tapi manusianya.Inilah alasan sehingga
saya masuk, dan juga merupakan alasan paling kuat. Saya merasa partai
ini tidak membeda-bedakan agama,” tegasnya.
Ketertarikannya pada PKS makin kuat seiring aktifnya partai ini menuju
ke pelosok desanya untuk melakukan kegiatan amal. Bahkan, ia sangat
terkagum-kagum ketika Menteri Sosial, Salim Segaf Aljufri datang
langsung ke desa Rahmat kecamatan Palolo untuk memberikan bantuan
sebesar 73 juta rupiah. Padahal mayoritas penduduk di desa ini beragama
nasrani.
“Saya juga tambah yakin dengan PKS waktu anggota DPR RI, Akbar Zulfakar
Sipanawa turun langsung ke kecamatan Palolo. Bayangkan, dari 5 orang
anggota DPR RI dari Sulawesi Tengah, hanya pak akbar yang turun langsung
ke pelosok. Yang lainnya hanya saya tahu lewat foto,” ujarnya
berapi-api.
Charles menambahkan bahwa ia akan tetap di PKS meskipun banyak berita
miring tentang partai ini. Baginya, PKS mampu melakukan kerja nyata
tanpa iming-iming janji palsu.
Sepanjang penuturan laki-laki kelahiran Gunna Malenong 42 tahun silam
ini, aku hanya bisa membisu dengan dada bergemuruh. Meski awalnya
keheranan dengan kedatangannya di acara temu kader yang menunjukkan
kesetiannya pada partai ini, aku akhirnya memahami bahwa sungguh janji
Allah itu pasti, inna ma’al usri yusro. Selalu dan selalu kemudahan
pasti membersamai kesulitan seberat apapun topaan badai yang menerpa. []
*foto: Charles K. Palullungan Sekr DPC PKS Kec. Palolo Kab. Sigi, Sulawesi Tengah
Ketika Derita Tak Terasa

Mereka
yang ridla adalah mereka yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Dzat
yang mendatangkan ujian. Mereka tidak berburuk sangka kepadaNya. Di
saat yang lain, ia menghayati betapa Dia Maha Agung, Maha Mulia, dan Maha
Sempurna. Ia terhanyut dalam persaksian-Nya atas semua itu, sehingga ia
tidak lagi merasakan derita. Hanya saja, hanya mereka yang benar-benar
berma'rifah dan bermahabbah saja yang dapat mencapai tingkatan ini.
Mereka -bahkan- dapat menikmati musibah yang menimpa mereka, karena
mereka tahu bahwa musibah itu datang dari Dzat yang dicintainya. .
Sabar berbeda dengan ridla. Sabar adalah menahan diri dari amarah dan kekesalan ketika merasa sakit sambil berharap derita itu segera hilang. Ridla adalah berlapang dada atas ketetapan Allah dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walaupun ia merasakannya. Keridlaannya meringankan deritanya. Karena hatinya dipenuhi oleh ruh yakin dan ma'rifah. Bila ridla semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.[]
Ibnul Qayyim al-Jauziyah
Pembuka Pintu-Pintu Langit
Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.
Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.
Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.
Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.
Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”
Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas.
Nabi SAW bersabda,
“Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”
Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”
Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.
Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.
“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”
“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “Bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”
Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab.
Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.
[madinatulilmi.com]
Menghitung Harga Nafas Kita
Bernafas,
mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian
orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas
dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda
memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran
rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang
melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari
setiap udara yang dihirup.Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.
Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.
Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.
Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.
Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah,“katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).
*)Syaefudin. Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.
Sawang Sinawang : Ilusi Kebahagiaan
Oleh Cahyadi Takariawan*
Suatu siang di Malioboro…..
Seorang lelaki paruh baya, badannya kurus, kulitnya coklat kehitaman.
Rambutnya tipis dan memutih, matanya cekung, tampak garis-garis di
kening dan keriput di kulitnya, menandakan ia sarat dengan beban
kehidupan. Duduk termenung di atas becak tua, tempat ia menggantungkan
penghidupan keseharian di Malioboro, tengah Kota Jogjakarta. Kayuhan
kaki yang rapuh, pada becak yang telah tigapuluh tahun menemani
perjalanan hidupnya itulah yang akan memberikan sedikit harapan bagi
keluarga.
Duduk menunggu dari pagi, berharap segera ada penumpang. Hingga menjelang siang, tak satupun penumpang datang. Seperti biasanya, iapun tetap tenang dan dengan sabar menunggu penumpang.
Dari kejauhan ia memandang sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Tampak sangat mewah dalam pandangannya. Pastilah mobil itu milik seorang yang kaya raya, dengan segala kemewahan hidupnya. Ia membayangkan betapa enak menjadi orang kaya. Rumahnya luas dan indah, mobilnya mewah, isterinya cantik dan terawat, anak-anaknya berpakaian serba bagus. Ia melamunkan kondisi rumahnya sendiri yang reot, tak ada perabotan di dalamnya, isterinya kurus kering didera beban kehidupan, anak-anak berpakaian seadanya.
Matanya berkaca-kaca… Andai saja ia bisa membahagiakan keluarganya seperti pemilik mobil mewah itu…..
Pikirannya melayang-layang jauh ke langit, membawa dirinya pergi ke alam mimpi. Mengantuk, perlahan-lahan iapun tertidur pulas di atas becaknya.
Sang Pejabat yang Galau
Alkisah, di dalam mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu, duduklah seorang lelaki berpakaian rapi. Mengenakan jas dan dasi, menandakan ia seorang pejabat. Ia duduk di bangku belakang sendirian. Di bangku depan, ada seorang sopir yang berpakaian rapi dan berperilaku sopan. Mobil tengah berjalan pelan di kepadatan lalu lintas Malioboro, tengah kota Jogjakarta.
Berhari-hari sang pejabat memikirkan sebuah proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Ada terlalu banyak masalah dalam pelaksanaan proyek itu. Dana yang tidak sesuai anggaran, pelaksana proyek yang mengerjakan asal-asalan, belum lagi banyaknya setoran yang harus diberikan ke berbagai pihak. Salah-salah ia terancam penjara dan kehilangan jabatannya. Beberapa malam terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak. Lelah, penat, dan tidak tenang pikiran dan hatinya.
Dari dalam mobil sang pejabat melihat deretan becak-becak di pinggir trotoar Malioboro. Matanya menatap seorang lelaki tengah baya, berkulit coklat kehitaman, berpakaian seadanya. Lelaki itu tampak tertidur pulas di atas becaknya, seperti tidak memiliki beban apa-apa.
Ia membayangkan, betapa damai hati tukang becak itu. Walaupun hidup di kampung dengan kondisi sederhana, namun bisa menikmati hidupnya. Mungkin isteri dan anak-anaknya hidup sangat sederhana, namun toh mereka bisa merasa bahagia dengan apa yang ada. Dibandingkan dengan kondisi dirinya yang memiliki berbagai fasilitas kemewahan, namun semua justru menimbulkan beban pikiran dan tekanan perasaan. Ia merasa tidak bisa menikmati kebebasan dan kebahagiaan.
Mata sang pejabat berkaca kaca…. Andai saja ia bisa merasakan ketenangan dan kedamaian perasaan seperti yang dialami tukang becak itu…. Betapa nyenyak tidurnya. Tubuh tukang becak yang kurus itu tampak tertekuk di atas jok becak, dan lihatlah betapa pulas tidurnya…. Betapa bahagia jika bisa tidur nyenyak seperti itu….
Sawang Sinawang : Ilusi Kebahagiaan
Begitulah kehidupan berjalan. Seseorang akan selalu melihat kondisi orang lainnya. Membandingkan, mengandaikan, membayangkan, mengkhayalkan….. “Andai saja aku bisa seperti dia, betapa bahagianya….” Orang Jawa menyebut, hidup itu “sawang sinawang”, saling melihat kepada yang lain.
Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mengharapkan sesuatu yang tidak nyata. Ia mengkhayalkan sesuatu yang bukan dirinya. Ia membayangkan posisi yang bukan haknya. Ia terus dikejar keinginan yang tidak pernah kesampaian. Ia mengejar kebahagiaan seperti yang ia lihat pada orang lain. Ia mencari kebahagiaan sebagaimana ia saksikan pada banyak kalangan manusia.
Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mencari dari orang lain. Ia tidak masuk ke dalam dirinya sendiri, dan menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Harusnya ia selalu menikmati semua yang ada. Merasakan kasih sayang Tuhan dalam setiap kejadian yang menimpanya. Menghayati kehidupan dari semua pemberian Tuhan yang didapatkan setiap hari. Sedikit atau banyak, itu tinggal cara kita menghitungnya.
Becak atau mobil mewah, itu hanya benda-benda, sama dengan benda lainnya. Orang bosan setiap hari naik mobil mewah, ia akan merasa bahagia suatu ketika naik becak di Jogjakarta. Orang bosan setiap hari naik becak, ia akan merasa bahagia naik mobil suatu ketika. Karena mobil mewah dan becak hanyalah benda-benda. Bukan di situ letak bahagia.
Jabatan, posisi, kedudukan itu hanyalah atribut kehidupan, sama dengan atribut lainnya. Orang mengira posisi di atas dirinya itu yang membahagiakan. Padahal posisi yang diinginkan itu hanyalah atribut kehidupan. Asesoris kehidupan, sama dengan asesoris yang lainnya. Bukan di situ letak bahagia.
Bahagia itu letaknya di dalam jiwa. Bukan pada benda-benda. Bukan pada atribut dan asesoris kehidupan. Maka carilah kebahagiaan dengan menyelam ke dalam jiwa kita sendiri. Bukan dengan mengkhayalkan hak orang lain yang tidak kita miliki. Jika anda terus mencari-cari kebahagiaan kepada benda-benda, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia. Jika anda terus menerus mencari kebahagiaan kepada atribut-atribut, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia.
Duduk menunggu dari pagi, berharap segera ada penumpang. Hingga menjelang siang, tak satupun penumpang datang. Seperti biasanya, iapun tetap tenang dan dengan sabar menunggu penumpang.
Dari kejauhan ia memandang sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Tampak sangat mewah dalam pandangannya. Pastilah mobil itu milik seorang yang kaya raya, dengan segala kemewahan hidupnya. Ia membayangkan betapa enak menjadi orang kaya. Rumahnya luas dan indah, mobilnya mewah, isterinya cantik dan terawat, anak-anaknya berpakaian serba bagus. Ia melamunkan kondisi rumahnya sendiri yang reot, tak ada perabotan di dalamnya, isterinya kurus kering didera beban kehidupan, anak-anak berpakaian seadanya.
Matanya berkaca-kaca… Andai saja ia bisa membahagiakan keluarganya seperti pemilik mobil mewah itu…..
Pikirannya melayang-layang jauh ke langit, membawa dirinya pergi ke alam mimpi. Mengantuk, perlahan-lahan iapun tertidur pulas di atas becaknya.
Sang Pejabat yang Galau
Alkisah, di dalam mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu, duduklah seorang lelaki berpakaian rapi. Mengenakan jas dan dasi, menandakan ia seorang pejabat. Ia duduk di bangku belakang sendirian. Di bangku depan, ada seorang sopir yang berpakaian rapi dan berperilaku sopan. Mobil tengah berjalan pelan di kepadatan lalu lintas Malioboro, tengah kota Jogjakarta.
Berhari-hari sang pejabat memikirkan sebuah proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Ada terlalu banyak masalah dalam pelaksanaan proyek itu. Dana yang tidak sesuai anggaran, pelaksana proyek yang mengerjakan asal-asalan, belum lagi banyaknya setoran yang harus diberikan ke berbagai pihak. Salah-salah ia terancam penjara dan kehilangan jabatannya. Beberapa malam terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak. Lelah, penat, dan tidak tenang pikiran dan hatinya.
Dari dalam mobil sang pejabat melihat deretan becak-becak di pinggir trotoar Malioboro. Matanya menatap seorang lelaki tengah baya, berkulit coklat kehitaman, berpakaian seadanya. Lelaki itu tampak tertidur pulas di atas becaknya, seperti tidak memiliki beban apa-apa.
Ia membayangkan, betapa damai hati tukang becak itu. Walaupun hidup di kampung dengan kondisi sederhana, namun bisa menikmati hidupnya. Mungkin isteri dan anak-anaknya hidup sangat sederhana, namun toh mereka bisa merasa bahagia dengan apa yang ada. Dibandingkan dengan kondisi dirinya yang memiliki berbagai fasilitas kemewahan, namun semua justru menimbulkan beban pikiran dan tekanan perasaan. Ia merasa tidak bisa menikmati kebebasan dan kebahagiaan.
Mata sang pejabat berkaca kaca…. Andai saja ia bisa merasakan ketenangan dan kedamaian perasaan seperti yang dialami tukang becak itu…. Betapa nyenyak tidurnya. Tubuh tukang becak yang kurus itu tampak tertekuk di atas jok becak, dan lihatlah betapa pulas tidurnya…. Betapa bahagia jika bisa tidur nyenyak seperti itu….
Sawang Sinawang : Ilusi Kebahagiaan
Begitulah kehidupan berjalan. Seseorang akan selalu melihat kondisi orang lainnya. Membandingkan, mengandaikan, membayangkan, mengkhayalkan….. “Andai saja aku bisa seperti dia, betapa bahagianya….” Orang Jawa menyebut, hidup itu “sawang sinawang”, saling melihat kepada yang lain.
Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mengharapkan sesuatu yang tidak nyata. Ia mengkhayalkan sesuatu yang bukan dirinya. Ia membayangkan posisi yang bukan haknya. Ia terus dikejar keinginan yang tidak pernah kesampaian. Ia mengejar kebahagiaan seperti yang ia lihat pada orang lain. Ia mencari kebahagiaan sebagaimana ia saksikan pada banyak kalangan manusia.
Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mencari dari orang lain. Ia tidak masuk ke dalam dirinya sendiri, dan menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Harusnya ia selalu menikmati semua yang ada. Merasakan kasih sayang Tuhan dalam setiap kejadian yang menimpanya. Menghayati kehidupan dari semua pemberian Tuhan yang didapatkan setiap hari. Sedikit atau banyak, itu tinggal cara kita menghitungnya.
Becak atau mobil mewah, itu hanya benda-benda, sama dengan benda lainnya. Orang bosan setiap hari naik mobil mewah, ia akan merasa bahagia suatu ketika naik becak di Jogjakarta. Orang bosan setiap hari naik becak, ia akan merasa bahagia naik mobil suatu ketika. Karena mobil mewah dan becak hanyalah benda-benda. Bukan di situ letak bahagia.
Jabatan, posisi, kedudukan itu hanyalah atribut kehidupan, sama dengan atribut lainnya. Orang mengira posisi di atas dirinya itu yang membahagiakan. Padahal posisi yang diinginkan itu hanyalah atribut kehidupan. Asesoris kehidupan, sama dengan asesoris yang lainnya. Bukan di situ letak bahagia.
Bahagia itu letaknya di dalam jiwa. Bukan pada benda-benda. Bukan pada atribut dan asesoris kehidupan. Maka carilah kebahagiaan dengan menyelam ke dalam jiwa kita sendiri. Bukan dengan mengkhayalkan hak orang lain yang tidak kita miliki. Jika anda terus mencari-cari kebahagiaan kepada benda-benda, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia. Jika anda terus menerus mencari kebahagiaan kepada atribut-atribut, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia.
*http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/ilusi-kebahagiaan-tukang-becak-dan-sang-pejabat/
10 Tips Sederhana untuk Hidup Bahagia
| Ingin sehat.. | Siyam! |
| Ingin wajah bersinar.. | Qiyamullail |
| Ingin hati lapang.. | Tilawah Al-Quran |
| Ingin bahagia.. | Sholat di awal waktu |
| Ingin meredam nafsu.. | Wudhu dan istighfar |
| Gelisah gundah bin galau.. | Perbanyak doa dan olahraga |
| Hilangkan tekanan, ancaman... | Perbanyak membaca.. لاØÙˆÙ„ ولاقوة الا بالله |
| Ingin hidup berkah berlimpah rahmat.. | Pastikan rizki yg halal dan perbanyak sholawat Nabi |
| Ingin kekayaan harta.. | Banyak-banyak sedekah |
| Ingin kebaikan tanpa lelah.. | Bagikan pesan sederhana ini ke teman-teman |
Endang Kebo, Preman Kampung Melayu yang jatuh hati dengan PKS
Endang Kebo, begitu beliau biasa dipanggil. Seorang tokoh preman yang menjadi backing tempat protistusi lawas di sebuah kawasan di Jakarta Timur.
Pria 52 tahun ini sudah hampir satu bulan mengikuti taklim yang diselenggarakan oleh kader PKS DPRa Kampung Melayu. Sambil belajar iqro’ untuk bisa membaca Al Quran.
Awalnya beliau diajak oleh sahabatnya yang lebih dulu ikut taklim
tersebut. Perlahan seiring beliau mengikuti taklim; hatinya semakin
bersemi dengan hidayah. Semangat hadirnya pun makin kuat. Rajin
mengulang bacaan iqronya di rumah atau bersama rekannya yang lain yang
sudah bisa. Hingga suatu saat, dengan tertunduk dia bercerita tentang
masa kelamnya dulu dan sekarang. Rasa inginnya untuk mengajak teman –
temannya dari lembah gelap untuk duduk bersama dalam indahnya taman
surga-Nya meraih rahmat, ampunan, dan keberkahan hidup.
Bahkan di saat yang lain; beliau menangis saat bercerita kepada teman
taklimnya tentang keinginannya untuk melepaskan susuk yang dipasang di
beberapa bagian tubuhnya. Subhanallah, kini beliau sudah ber-’azzam tuk bersama dalam kafilah dakwah ini dengan segala keterbatasannya.
“Rabb, indah nian kuasa-Mu tuk merengkuh hamba-Mu yang terperosok dalam jurang gelap dunia.”
*http://www.pksjaktim.org/bersama-kader-dakwah-ia-meraih-hidayah-islam/
Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu...
Minggu, 13 Januari 2013
17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali.
“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak
Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah
ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”.
Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada
masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita
menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke
rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan
wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar
di Taman Al Quran.
Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda
kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan
kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para
pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin
menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah
kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu
merekomendasikan diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku.
Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli
berapa penghasilanku.
Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh.
Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu.
Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia.
Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu,
pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”.
Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak
itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.
Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat
kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera
menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka
membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di
sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk
ke kamar, berbondong-bondong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang
selalu memegang-megang bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak
prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak
nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum
dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi
aja yang ndak tahu.”
Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak
orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah,
Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi.
Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu
menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta
tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah.
Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa
bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.
Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga
besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon
menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu
KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke
Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika
mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut
saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-keponakanmu pun
sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke
Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan
salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”
Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering
kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang
harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul.
Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak
bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan
orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.
Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.
Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM.
Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain,
mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja
dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu
mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.
Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para
peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau
mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci,
teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakterku, dan
teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku. Terimakasih
telah memahami diriku.
Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku
mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau
aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu
berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji
bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota
Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa
bertahan lebih lama di kota Mekah.
Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi
mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku.
Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja
untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama
ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan
uang transport dari mengisi majelis-majelis ta’lim untuk menunjang
dakwahmu.
Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil
memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan
kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku
merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan
agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat
ketika engkau bermanja kepadaku.
Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang
mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar
dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang
kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena
tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di
dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2
agar kau bahagia.
Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam)
yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha
mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar
peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban
soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya. Kamu pun menulis jawaban
tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau
merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan
orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab
sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat
dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz
Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering
kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu
istriku.
Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat
melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku
melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu
menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari.
Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya
saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.
Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu kelak saat anak-anak
sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku
akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak
pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan
motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah
motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.
Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan
dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat
saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi
pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada
yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih
dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka
merasakan kebaikanmu.
Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih
pintar mengaplikasikan teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya
aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain.
Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetangga kita. Terkadang
aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu
ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap
perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.
Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain,
nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih
mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai
hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid
berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang
berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”
Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau
menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau kadang membelikanku baju
sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip
minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku
mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu
mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya
sudah pake uang aku aja.”
Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke
delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu
menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera
keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat
takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal,
aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah
dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa
putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan
yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah
mendahuluimu.
Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini
berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku
berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi
nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka
ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar,
kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku
pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan
kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita
bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka
selamat.
Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan
semangatmu, ”Cepat sembuh, anak-anak kita menunggumu di rumah.” Engkau
mengangguk-angguk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT
ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita
menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu.
Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena
melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.
Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau
saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa.
Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik
(matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba
Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan
kekuatan doa.”
Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan
almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya
membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.
Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah
ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian
menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan
kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk
kemudian menangis karena kehilanganmu.
Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang
datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan,
"Sahabat-sahabatnya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau
beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke
Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari
Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun
datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun
melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di
masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut
untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi
jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa
kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak
sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.
Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda.
Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC
Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata
bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah
sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang
selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu
mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku
meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.
Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya,
KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum
meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena
washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh
murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda,
kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua
Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung
Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di
masjid Kotabangun.
Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu
ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain
saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah
kehilangan kesempatan membahagiakanmu di dunia. Aku sudah kehilangan
kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini
aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.
Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak
merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan
kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan
berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor
untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan
airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah
wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena
tidak ingin merepotkan suaminya.
Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah,
putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat
kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa
karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik
untukmu.
Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di
hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan
lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas
jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu.
Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali
denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....
Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku
Yang bersyukur mendapatkanmu
Suamimu,
Abu Muhammad
Allah Berikan 'Hadiah'... Gludak....gluduk... kerompyang….
Beberapa waktu lalu datanglah utusan HAMAS ke Balikpapan, Syaikh Shiyam dan Syaikh Abdul Azis bersama para pegiat peduli Palestina dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jakarta. Mereka datang dalam rangka penggalangan dana untuk Palestina. Saat itu sedang terjadi perang Hijaratus sijjil di bumi Gaza.
Siang itu terik tak terperi. Baling-baling kipas anginku sudah mematung
lantaran dinamonya telah tamat riwayatnya. Mati mendadak beberapa hari
silam terserang stroke hebat karena kebanyakan berputar sementara
terjadi penyumbatan-penyumbatan debu pada celah kumparannya. Kipas angin
itu tak ubahnnya hanya sebuah patung maniken yang tidak laku.
Aku dan isteriku duduk berhadapan sambil bercakap-cakap dalam suasana
rumah panas karena bias matahari yang mengurung rumah kami.
Aku: “Mi… kau tahu kan betapa kalau mendengar Palestina bergetar rasa
tubuhku ini. Mendidih darahku hendak pergi berperang melawan Israel
terlaknat. Tapi tak mungkin pula aku kesana. Paling-paling nanti
ngerepotin tentara HAMAS saja, mereka repot jagain aku karena tak paham
medan. Besok ada penggalangan dana untuk Palestina oleh KNRP. Masih
adakah uang kita?”
Isteriku: “Aih, tak ada uang lagi kita abi, kecuali buat makan 10 hari. Tahu kan ini bulan tua? Belum gajian”.
“Ah iya… kenapa pula bulan, kau ini cepat kali tuanya? Ini KNRP juga
tak pandailah cari momen. Masak menggalang dana bulan-bulan tua begini.
Tak punya almanak kah mereka ini bah? Ah memang kantor aja yang tidak
mau beda dikit. Coba gajian tiap hari aja, tak usah tunggu akhir bulan.”
Menggerutu aku cari kambing hitam. Padahal memang begitulah saban
bulan. Besar pasak daripada tiang.
Isteriku semakin cepat mengibas-ngibaskan potongan kardus aqua yang
dibuatnya kipas angin manual. Keringatnya mulai kering. Akhirnya aku
perintahkan ia untuk mengumpulkan semua uang yang tersisa untuk
disumbangkan ke Palestina dalam penggalangan dana besok. Kecuali hanya
sedikit untuk beli bensin kendaraan. Urusan makan nanti ajalah, Allah
yang atur ujarku. Isteriku yang solehah itu mengangguk saja menurut.
Singkat cerita esoknya ramailah manusia berdesakan menyaksikan konser
amal Opik, Sulis dan Grup Nasyid Shoutul Harokah di hotel Novotel
Balikpapan.
Setiap ada yang menyumbang atau membeli barang lelang amal dalam jumlah
besar, hatiku merinding. Ada yang membeli sorban Opik lima juta. Ada
yang menawar delapan juta. Airmataku bercucuran. Aku demi Allah iri
terhadap mereka. Seolah mereka berlomba memboking kamar di Surga. Aku
tersudut dalam jasad miskin nan papa ini melantunkan potongan ayat
Al-qur’an yang menurutku sangat cocok dengan kondisiku: “...lalu
mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan,
lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infaqan” (QS: At-Taubah :92).
Ketika tiba waktu melelang syal rajutan keluarga Ismail Haniya dan
ditandatangani oleh perdana menteri Hamas itu, suasana tegang. Dibuka
harga dua puluh juta. Lalu naik perlahan-lahan dua puluh delapan juta,
tiga puluh juta, enam puluh juta. Aku hampir pingsan tak berdaya.
Kembali surah at-taubah ayat 92 mengiang-ngiang di telingaku. Akhirnya
syal itu tutup harga tujuh puluh dua juta rupiah. Dibeli oleh sepasang
pengantin muda yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.
Lututku bergetar dan akhirnya jatuh terantuk ke atas lantai. Disusul
jatuhnya airmataku setetes demi setetes. Allah… betapa beruntungnya
orang kaya hari ini. Sungguh tak pernah aku iri kepada seorang kecuali
hari ini. Aku hancur lebur dalam keharuan dan penyesalan. Dadaku
berdegup kencang.
Belum selesai hatiku berdebam-debam dimumumkan pula kalau ada yang
menyumbangkan rumahnya di Samarinda dan ada yang menyumbangkan mobilnya.
Hampir saja aku pingsan. Kering kerontang tenggorokanku. Dehidrasi
menahan dahaga iman yang bergejolak. Sungguh Allah hadirkan aku dalam
suasana iman yang misterius ini dan menyaksikan iman orang berkelebatan
menyambut seruan jihad maali. Aku hanya ternganga menatap
langit-langit gedung. Hanya sanggup memancang niat, andai saja aku punya
sekarung emas, akan ku-infaq-an hari ini untuk jihad Al-Aqsa.
Sudahlah tak sanggup lagi bercerita banyak mengisahkan hari indah itu.
Aku dan isteriku beserta keempat anakku pulang kembali ke rumah.
Tiba di rumah aku kembali dalam suasana panas terik mengepung rumah. Aku
dan isteriku duduk berhadapan. Di samping mayat kipas angin. Isteriku
mengambil kembali potongan kardus untuk menjadi kipas angin manualnya.
Aku: “Umi aku lapar, ayo makan yok!”
Aku sedikit berteriak kepada isteriku yang beranjak sebentar
menghidupkan mesin cuci tua. Dari pagi pakaian itu disitu belum sempat
dicuci.
Isteriku: “Hendak makan apa kita bi? Tak ada beras. Tak ada lagi uang.”
Aku: “Astaghfirullah. Iya ya? Wah bagaimana ini? Kasihan anak-anak belum makan semua lagi.”
Suasana hening. Aku menepuk jidatku sendiri dan menggenggam rambut
berpikir keras cari akal untuk menghadirkan makanan. Aku butuh uang
paling tidak lima puluh ribu rupiah untuk beli beras lima kiloan cap
kura-kura. Supaya bisa hidup sepuluh hari dengan itu. Atau paling tidak
seminggu sampai gajian.
Lama aku terdiam buntu pikiran dan tak karuan rasa. Anak-anak sudah
bergelimpangan di lantai lemas lapar bercampur ngantuk.
Tiba-tiba ada suara gemuruh: “gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang….”
Tiba-tiba ada suara gemuruh: “gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang….”
Aku saling bertatapan dengan isteriku. Lalu kami sama-sama berlari
menuju sumber suara. Ternyata berasal dari mesin cuci yang memutar
cucian tidak balance sehingga inner bucket-nya menyentuh housing tidak karuan menghasilkan suara ribut (noise) yang ekstrim.
Isteriku membuka penutup mesin cuci. Demi melihatnya kedalam betapa
terkejutnya kami berdua. Pakaian yang ada semua membentuk lingkaran
menempel pada dinding inner bucket dan membuat pola huruf O. Ini
wajar karena efek sentrifugal akan membuat pakaian itu terlempar ke
radius terluar dinding itu. Namun yang membuat kami terkesima adalah di
bagian tengah lingkaran pakaian itu tepat didasar bucket bercokol sebuah
lembaran kertas kumal berwarna kebiru-biruan.
Subhanallah. Maha suci Allah yang mengirimkan selembar uang lima
puluh ribu rupiah ke dalam mesin cuci kami. Secara spiritual tentu saja
Malaikat lah yang telah diperintahkan Allah untuk mengirim uang itu ke
dalam mesin cuci kami dan mendramatisirnya dengan senandung
“gludak-gluduk kerompyang….”. Tapi secara ilmiah tentu saja ini adalah
lembar uang yang terlupa di kantong celana dan ikut tercuci. Secara
tidak sengaja keluar dari kantong karena efek sentrifugal putaran mesin
cuci. Tapi entah kapan dan di kantong celana yang mana aku tak tahu.
Kami bersorak kegirangan. Aku tancap gas ke mini market membeli beras
cap kura-kura lima kilo. Kami pun hidup bertahan sampai gajian. Meski
hanya dengan lauk kerupuk dan kecap.
Balikpapan-Batuampar, 26 Shafar 1434H
*Ibnu Ismail, Kabid GMPro DPD PKS kota Balikpapan - Kaltim
email: ibnu.ismail@yahoo.com
Aleg partai lain ada yang begini?
Yang kami tau, Ustadz S, anggota DPRD Kota Tangerang dari PKS beliau
‘punya’ dua mobil. Satu mobil pribadi dan satu mobil dinas. Beliau lebih
sering menggunakan mobil pribadi untuk mobilisasi. Sedangkan mobil
dinas beliau dedikasikan untuk dipinjam masyarakat, karena menurut
beliau "itu mobil rakyat, biar dipake rakyat juga".
Beberapa hari yang lalu, Abu Fatih telpon sang Ustadz, minta izin pinjam
mobil untuk menjemput putri kami di pesantren hari Rabu tanggal 8.
Ustadz S mempersilahkan.
Maka, Rabu pagi, meluncurlah Abu Fatih ke rumah sang Ustadz untuk
mengambil mobil. Sesampainya di rumah beliau, ternyata ga ada mobil.
Mobil pribadi maupun mobil dinasnya ga ada. Kata Umi nya, "Ustadz ke
kantor bawa mobil dinas. Pa Fadil ambil aja mobil dinas di kantor. Motor
Pa Fadil taruh di sini, Pa Fadil ke kantor pake motor saya. Biar nanti
Ustadz pulangnya pake motor".
Masalahnya....... kami tau bahwa putri beliau pun harus dijemput di
pesantren, karena putri beliau satu kelas di pesantren dengan putri
kami. Maka terlontar pertanyaan dari Abu fatih kepada Istri sang Ustadz
"Lha, terus Hana (putri beliau) bagaimana?". Dengan santai istri sang
Ustadz menjawab, "Hana nanti saya yang jemput pake motor."
Subhanalloh. Jadi, yang punya mobil njemput putrinya pake motor, karena
mobilnya dipinjam oleh orang yang mau njemput putrinya juga, di
pesantren yang sama???
“Itu kan mobil rakyat” benar-benar sudah melekat pada aleg dan keluarga aleg ini.
ALLOHU AKBAR!!
by Ratih Kartiningsih
*sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290435904397186&set=a.137355103038601.29452.100002923374352&type=1&theater
"Semakin Terkuaknya Kasus LHI - AF & Keterlibatan Intelijen Israel" by @DangTuangku
Selasa, 26 Februari 2013 | 23.55
Ini info terbaru (20 februari 2013) kasus LHI. Fakta yg terungkap makin menjelaskan peta kasus:
- LHI memang pernah kenal Ahmad Fathanah. Sebelum ayah AF mati, ayahnya titipkan AF ke LHI.
- AF manfaatkan kedekatannya dgn LHI menghubungi importir daging bahwa ia bisa bantu.
- Inilah alasan mafia gunakan jasa AF utk lobi mentan agar kuota impor dinaikkan.
- Selama setahun diincar KPK, LHI tahu dirinya diincar. Itu sebabnya ia berusaha menghindar AF.
- Cara menghindar dgn buang badan. Setiap diminta bantuan dgn langsung aja ke mentan.
- Tapi sial mentan rupanya tak mau dilobi. Ini terlihat dalam kultwit "analisa korupsi mentan".
- Mentan pernah didatangi indoguna dan AF agar kuota dinaikan. Tapi ditolak mentan.
- Disinilah jebakan untuk LHI dirancang. Indoguna antarkan uang utk LHI lewat AF.
- LHI sadar mau dijebab, selalu dlm telepon bilang ntar..ntar (mengulur2 atau menolak halus).
- Rekaman inilah yg dimiliki KPK. AF ajak bertemu tapi ditolak halus terus oleh LHI dgn kata sebentar2 tadi.
- KPK yg menunggu akhirnya sadar, LHI tak mungkin datang. Akhirnya tangkap AF karena dikejar tayang/sponsor.
- Siapa sponsornya, marilah kita analisis kebijakan menteri pertanian setahun terakhir.
- Mentan sejak dua tahun terakhir menekan impor lewat kuota.
- Enam bulan lalu diturunkan dari 40 persen ke 20 persen. Kuota 20 persen ini dipaksakan 6 bulan terakhir.
- Kebijakan Mentan ini merugikan AS dan Australia yg merupakan pengekspor terbesar sapi.
- AS dan Australian berupaya menekan pemerintah. Diantaranya melalui SBY agar mengganti Mentan.
- Bila anda ingat kisruh politik setahun ini, target lawan2 politik PKS selalu kursi mentan.
- Namun upaya itu gagal krn PKS enggan keluar koalisi walau berkali2 ditekan dgn berbagai cara.
- Puncaknya 8 bulan lalu, kerugian AS dan Australia sudah puluhan miliar dolar AS gara2 kebijakan Mentan.
- AS dan Australia lewat Mafia Impor WNI, mencari titik lemah mentan. Sebab, cara menggusur hanya dgn hukum.
- Disewa lah konsultan intelijen swasta berbentuk perusahaan milik Israel.
- Perusahaan intel swasta ini berkantor di Singapura. Kantor cabangnya ada di Thamrin.
- Kiprah perusahaan ini sebenarnya sempat muncul di http://t.co/jKKognyv. Banyak pasok data ke penegak hukum.
- Dari sana ketemulah perusahaan itu dgn mantan dirjen pertanian yg dipecat.
- Mantan dirjen yg dipiara mafia impor ini kemudian buat dokumen2 yg sebagian dimanipulasi.
- Melalui bantuan eks dirjen piaraan impor inilah kemudian sebundel dokumen korupsi mentan beredar.
- Dokumen itu dikirimkan ke sejumlah media massa dgn nama dan alamat pengirim palsu.
- Dokumen ini yg kemudian digunakan data oleh TEMPO dalam laporannya beberapa waktu lalu.
- Dokumen ini juga masuk ke KPK dan Kejagung. KPK yg ragu usut karena kuatir dianggap politis cari pintu masuk.
- Pintu masuk itu adalah operasi tangkap tangan. Ini sebabnya LHI diincar hampir setahun.
- Operasi tangkap tangan akan melumpuhkan pertahanan PKS bila membela mentan. Sekaligus untungkan lawan politik PKS.
- Cukup sekian dulu, nanti dilanjutkan. Informasi mungkin ada yg tak tepat, tapi subtansi pas. Informasi milik semua.
Content from Twitter
Tips Membersihkan Rambut dari Permen Karet
Tidak
perlu menggunting rambut, jika rambut terkena permen karet, karena ada cara
mudah untuk menghilangkan permen karet tersebut, yaitu dengan menggunakan selai
kacang. Berikut caranya:
- Oleskan selai kacang pada rambut yang terkena permen karet lalu gosok dengan sikat gigi. Gesekan antara permen karet dan kacang akan membuat permen karet rontok.
- unakan handuk kering untuk bersihkan selai kacang dari rambut (permen karet pun ikut terkikis). Lalu sisir rambut dengan sisir bergigi jarang.
- Cuci rambut dengan shampoo seperti biasa, utamakan rambut yang terkena permen karet.







