)|( PKS Bae Kudus: Renungan
Headlines News :

PKS Update

Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kisah Kami Berusaha Menjadi Pembeli dan Penjual Yang Berakhlaq

Jumat, 03 Mei 2013 | 17.10

 jual beli
Ada banyak hal dalam Islam yang sangat indah dalam berbagai aturannya. Semua diatur hingga semakin teratur, beretika dan beradab. Islam memang sangat sempurna, hanya seringkali umat Islam sendiri yang membuatnya tampak tak indah.

Berbicara masalah jual beli, Islam pun mempunyai adab dalam hal ini. Allah Azzawajallah menyatakan dalam Surat Al Baqarah 275 "... dan Allah telah menghalalkan jual beli..."

Dibolehkannya kita dalam transaksi penjualan dan pembelian dalam Islam, pun terdapat berbagai syarat-syaratnya. Syarat-syarat ini bukan bermaksud untuk menyulitkan, namun menjadikan sebuah rambu-rambu kepada umat Islam agar melakukan transaksi jual beli dengan baik. Agar jangan sampai kita melakukan cara-cara yang bathil dalam melakukan transaksi jual beli.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka (saling ridha) di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’: 29)

Yang menjadi patokan penting dalam Islam ketika transaksi jual beli tersebut, disamping tidak bertransaksi dengan sesuatu yang haram, tetapi adalah terjadi saling keridha'an ketika bertransaksi. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw.

“Hanyalah jual beli itu (sah) bila saling ridha di antara kalian.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

Jadi, jual beli bisa menjadi berkah manakalah penjual serta pembeli merasa ridha, barang yang dijualnya serta barang yang dibelinya. Tidak ada paksaan, apalagi cela.

Rasulullah n melewati tumpukan makanan (yang dijual) lalu beliau masukkan tangannya ke dalamnya maka mendapati tangan beliau basah. Maka beliau mengatakan: “Ada apa ini wahai pemilik makanan ini?” “Terkena hujan, ya Rasulullah,” jawabnya. Beliau mengatakan: “Tidakkah engkau letakkan di bagian atas makanan itu supaya orang melihatnya? Orang yang menipu bukan dari golongan kami.” (Shahih, HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ath-Thabarani)

Juga dalam hadits berikut:
“Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami maka dia bukan dari golongan kami, dan makar serta penipuan itu di neraka.” (Hasan Shahih, HR. At-Thabarani dalam kitab Mu’jam Al-Kabir dan Ash-Shaghir dengan sanad yang bagus dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya. Lihat Shahih At-Targhib, 2/159 no. 1768)

Sangat banyak sekali berbagai dalil mengenai jual beli, namun hal yang menjadikan kita semakin nikmat ketika kita melakukan transaksi jual beli adalah dengan saling memaklumi dan memahami.

Ada banyak para penjual yang ingin mencari untung besar, tetapi juga ada banyak pembeli yang serupa (mencari untung besar). Tak sedikit kasus para pembeli yang berdusta, lalu menaikkan harga jualnya yang tinggi, sehingga meraup untung banyak.

Sama pula dengan pembeli, yang melakukan penawaran pada harga yang serendah-rendahnya agar mendapatkan barang yang lebih murah.

Dua contoh ini menjadikan proses jual beli menjadi saling melakukan perdebatan dalam bertransaksi. Syaikh Sayyid Nada pernah berpesan "Jangan banyak tawar-menawar dan berdebat. Hendaknya mereka saling memaklumi."

Sebuah cerita dari pengalaman (red, penulis) ketika melakukan transaksi jual beli.  Ketika akan membeli sebuah barang yang sekitar seharga Rp 400 ribu, semua orang mengatakan bahwa pada toko tersebut bisa saling mengajukan tawar menawar. Akan tetapi ketika melihat toko tersebut milik seorang muslim, maka kami urungkan untuk berniat menawar.

Karena menurut kami, membeli sesuatu bukan sekedar proses bertransaksi, tetapi ada keberkahan disitu. Diantara beramal dan mengikuti Sunnah Rasul.

Pada saat kami tidak menawar, lalu proses pembayaran. Si penjual mengatakan "Sudah mas saya kasih harga Rp 270 ribu saja." Saat itu kami sedikit kaget, sambil mengatakan "Loh, nggak takut rugi mas?" Si penjual hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Karena si penjual sudah mengatakan hal tersebut, maka kami membayar sesuai dengan perkataan si penjual.

Pada kesempatan lain lagi, kami pernah juga melakukan transaksi jual beli, dengan membeli sebuah barang seharga Rp 300 ribu. Seperti biasanya, kami sekeluarga memang hampir tidak pernah menawar jika membeli sesuatu. Karena kami percaya, dan ridho, jika kami terbohongi maka itu urusan penjual dengan Allah Azzawajalla. Tetapi, lagi-lagi ketika proses pembayaran, si pembeli mengatakan "Bayar Rp 250 ribu saja mas." Kami takut penjual tersebut merugi, maka kami menanyakan "Apa nggak takut rugi bu?" si penjual hanya mengatakan "nggak mas!"
Ketika saya dan istri berbincang mengenai hal tersebut saat dirumah, kami menyadari betul bahwa segala proses itu sudah diatur oleh Allah Azzawajalla, termasuk ketika kita akan membeli, berjalan membeli, saat melihat barang hingga saat proses transaksi pembayaran.

Semua itu telah diatur, semahal apapun sesuatu pasti jika Allah Azzawajalla meridho'i kita memilikinya, maka pasti kita akan memilikinya.

Sama, dengan peristiwa ketiga. Membeli rumah, bukan sebuah proses yang cepat, ada banyak tahapan-tahapan yang kita lalui, dan tentunya biayanya pun tidak sedikit. Rumah seharga Rp 160 juta, kami tidak mempunyai uang sebesar itu. Kecuali hanya bermodal pinjam di salah satu Bank Syari'ah, dan alhamdulillah karena sedikit ada (proses nepotisme) adik yang bekerja disana, sehingga kami sangat terbantu sekali.

Walaupun sudah sangat terbantu oleh adik yang bekerja di salah satu Bank Syari'ah tersebut, ternyata masalah lain timbul. Yaitu karena dana yang turun tidak mencapai Rp 160 Juta. Kami butuh sekitar 10 juta lagi untuk mencukupi membeli rumah tersebut. Saat itu saya dan istri memang ber-azam untuk memiliki rumah tersebut, bukan hanya disamping kami ingin pindah dari Rumah Dinas milik pemerintah, tetapi karena ada yang lebih dari itu.

Rumah tersebut tepat beradapan pada sebuah masjid. Inilah point utama kami, harga Rp 160 juta bagi kami terlalu murah jika dibandingkan dengan lokasi yang begitu sangat kami inginkan tersebut. Hingga akhirnya, tanpa disangka ada bantuan Rp 22 juta yang sampai kepada kami agar bisa membeli rumah tersebut. Dan Alhamdulillah, sudah terbeli.

Lucunya, setelah kami membeli rumah didepan masjid tersebut sekitar Rp 160 juta, tepat disebelah rumah yang kami beli itu juga ternyata dijual, dengan harga Rp 130 juta.
Masya Allah... setiap orang sudah diatur rezekinya oleh Allah SWT. Kami tidak merasa rugi, karena keyakinan kami hanya untuk Allah Azzawajalla.

Ada juga proses transaksi unik ketika saya harus berdebat dengan teman seorang Ikhwah Salafy. Beliau tahu kalau saya aktivitasnya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Suatu ketika saya membeli beberapa dagangannya, saat beliau menghitung semuanya pas senilai Rp 100 ribu. Lalu beliau mengatakan "Semuanya Rp 80 ribu akhi (sebutan bahasa arab untuk saudara laki-laki)," lalu saya berkata "Antum (kamu), nggak rugi akh?" Beliau bilang "Nggak akh, Insya Allah!" Tetapi saya takut, beliau rugi besar, karena itu saya bilang "Ana (saya) kasih Rp 90 ribu saja akh, diantara harga antum dan sebenarnya, bagaimana?" Hingga beliau tersenyum, dan mengangguk.

Kami tidak ingin mengatakan bahwa cara kami melakukan transaksi jual beli tersebut merupakan yang paling syar'i dan sesuai adab Islam. Tetapi hal yang ingin kami sampaikan dalam tulisan ini adalah, bagaimana kita mampu memaklumi dan menghargai orang lain, sebagaimana ketika kita melakukan transaksi jual beli. Kekuatan persaudaraan Islam, hendaknya jangan sampai kita manfaatkan untuk membuat saudara kita yang lain rugi saat menjual ataupun membeli.

Lebih-lebih, mari kita memulai untuk saling memaklumi dan menghargai, jangan sampai mencela barang dagangan orang atau bahkan menawar dengan sangat rendah yang tidak sesuai pasaran. Sebagaimana penjual juga mestinya tidak melakukan upaya ingin untung besar sehingga harus meninggikan harganya.

Yang kami sering temui, lantaran memang pembeli juga sering melakukan penawaran terendah atau juga sebaliknya penjual melakukan penawaran tertinggi, maka disinilah kita tidak mencapai titik saling percaya. Hingga selalu merasa "harganya mahal nggak yah?"

Sebagai prinsip individu, kami sekeluarga mempunyai prinsip, membeli kalau punya uang dan tidak perlu meminjam barang orang lain hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Jika punya uang, maka beli-lah, jika tak ada uang maka bersabar dan mari bekerja lebih giat lagi.

Salam... Cinta untuk selalu be-Kerja dalam Harmoni Islam yang indah. Tanpa memusuhi walaupun dimusuhi…

Oleh: Abu Jaisy

sumber:http://www.suaranews.com/2013/05/kisah-unik-menjadi-pembeli-dan-penjual.html

Rasulullah Menyuapi Pengemis Yahudi Buta yang Mencacinya

Minggu, 28 April 2013 | 08.18




Di sudut pasar tinggal seorang yahudi tua dan buta . Setiap pagi ada seseorang datang membawa makanan. Dia menyuapi yahudi tua itu. bercanda sebentar lalu pergi. Ini berlangsung beberapa tahun hingga yang menyuapi itu meninggal.

Sahabatnya ingin meneruskan tugas menyuapi yahudi tua itu. Dia datang dan bawakan makanan. Ketika dia menawarkan makanan itu,

yahudi tua itu menghardik,” Siapa kamu?”

“Aku yang biasa mengantar makanan kepadamu setiap pagi”, sahabat itu menjawab dengan sabar.
yahudi itu menolak,”Kamu bukan yang biasanya. Orang yang biasanya itu, selalu melembutkan makanan dan menyuapkan padaku. dia selalu berkata lembut padaku. jadi kamu bukan orang itu.”

Sahabat itu menangis mengenang sahabatnya. Dia terpaksa mengabarkan bahwa orang itu sudah meninggal. Lalu sahabat itu melembutkan makanan dan menyuapkan pada yahudi tua itu.

Selesai menyuapi, sahabat itu pamit. yahudi tua itu menjawab,” Terima kasih, saya tidak dapat membalas kamu kecuali dengan nasihat. Seperti sahabatmu juga saya beri nasihat. Yaitu, jauhi Muhammad. Karena dia itu gila, merusak agama, mengejar kekuasaan, gila bini banyak.”

Sahabat ini seperti disambar halilintar. Marah dan sedih.

Sambil terbata, dia berkata,” Tidakkah kamu tahu Kek, orang yang menyuapi anda kemarin itu adalah Muhammad, dan aku Abu Bakar.”

” ya Allah…. alangkah mulianya Muhammad. Tiap hari aku caci, tiap hari pula dia mencandai aku dengan lembut…”,  yahudi tua itu pun menangis tersedu.

Dengan lirih yahudi tua itu bersaksi, ” Asy hadu al laa ilaaha il-la Allah, wa asy hadu an-na Muhammadar Rasulullah.”

(disadur dari -= IslamIsLogic.wordpress.com =-)

Inilah ekspresi cinta dan kerja amal yang menembus batas.

CINTA | KERJA | HARMONI

Bagaimana menurut Anda?

oleh: Astocha Abdurrahman

sumber:http://politik.kompasiana.com/2013/04/25/pks-menyuapi-yahudi-550213.html

Mudah Memaafkan dan Cepat Reda Ketika Marah

Rabu, 24 April 2013 | 23.51




DALAM kehidupan dunia ini, tak seorang pun yang tak pernah marah. Marah adalah fitrah manusia. Tetapi tidak semua marah itu buruk atau tercela. Marah ketika kebenaran dilecehkan adalah marah yang produktif bahkan wajib.

Sayyidina Ali berkata, “Rasulullah tidak pernah marah dalam urusan dunia. Jika beliau marah oleh kebenaran (yang dilecehkan), maka tak seorang pun mengenalinya dan berani berdiri karena amarahnya hingga beliau memperoleh pertolongan dari Allah.” (HR. Thabrani).

Marah dalam konteks ini pernah juga terjadi pada riwayat sahabat. Suatu ketika Abu Bakar sangat marah kepada Umar bin Khathab yang membujuknya untuk membatalkan pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang. 


Tetapi, karena pengangkatan Usamah itu dilakukan oleh Nabi maka Abu Bakar tidak mau menerima usulan Umar.
Dan, ketika Umar mendesak terus menerus, Abu Bakar spontan melompat dan memegang jenggot Umar seraya berkata, “Apakah engkau menyuruhku untuk mengubah keputusan Rasulullah?” Marah tetap perlu, tetapi konteksnya adalah dalam iman dan kebenaran.

Marah yang tercela itu adalah marah yang dilampiaskan secara berlebihan kemudian kaitannya hanya karena hal-hal yang tidak begitu penting. Seperti marah karena istri terlambat menyediakan makan, atau murid tidak bisa mengerjakan tugas sesuai keinginan guru, dan lain sebagainya.
Seorang teman pernah bertutur bahwa dirinya tidak pernah marah kepada anak-anak hanya soal kebendaan. Seperti piring pecah, motor rusak karena jatuh, atau apapun. Tetapi ia sangat marah manakala ada di antara anak-anaknya yang berkata kotor dan menyakiti orang lain.

Betapa banyak di sekeliling kita orang marah di luar kontek bahkan terkadang sangat berlebihan?. “Sudah sarjana, tapi packing (mengepak barang) saja tidak bisa?” demikian salah satu contoh sikap berlebih-lebihan dalam kata-kata saat marah.

Jalan Setan


Marah dalam konteks keduniawian menjadikan setan semakin mudah menguasai hati seseorang. Karena marah yang bukan karena kebenaran datangnya dari setan.

Sekali waktu Aisyah radhiyallahu anha pernah marah. Lalu Rasulullah bertanya, “Setanmu telah merasukimu?” Aisyah balik bertanya, “Apakah engkau juga punya setan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya, saya juga. Tetapi saya senantiasa berdoa kepada Allah dan Ia menolongku sehingga aku pun selamat dan tidak memerintah kecuali hanya kebaikan.” (HR. Muslim).

Pantas jika kemudian Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin berkata bahwa marah adalah api yang bersemayam dalam hati yang dapat menimbulkan kesombongan, yang boleh jadi, kesombongan itu berasal dari api yang digunakan untuk menciptakan setan.

Senada dengan Imam Ghazali, Imam ibn Hajar Al-Asqalani sebagaimana dikutip oleh Dr. Anas Ahmad Karzon dalam bukunya Tazkiyatun Nafs mengatakan bahwa marah dalam hal keduniawian yang dilampiaskan secara berlebihan akan mendatangkan kesombongan yang berujung pada kemarahan, dendam, dan dengki. Sementara itu, dampak bagi lisan, kemarahan akan mendorong seseorang berkata kotor dan murahan.

Maka apabila ada sebuah kejadian yang membuat kita marah, sementara diri dalam kebenaran dan memegang kendali permasalahan, sebaiknya tenangkan diri, diam dan perbanyak istighfar. Jika tidak, maka nafsu akan menguasai hati dan boleh jadi, lisan akan berkata-kata kotor dan murahan yang bisa menimbulkan permusuhan dan pada akhirnya akan sangat disesali hingga akhir hayat.

Maka Rasulullah bersabda bahwa, “Orang yang kuat adalah orang yang sanggup mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, ketika ada sahabat yang meminta wasiat kepada Nabi, belliau bersabda, “Jangan marah, jangan marah, dan jangan marah.” (HR. Bukhari).

Tingkatan Marah

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Ghazali membagi marah dalam tiga tingkatan. Pertama, manusia yang tafrith (serba kekurangan), yaitu manusia yang kehilangan potensi amarah dan emosinya sama sekali (sehingga tidak dapat marah).

Kelompok manusia yang tafrith ini adalah tercela, dan inilah yang dimaksud dalam ungkapan Imam Syafi’i. “Barangsiapa yang sengaja dibuat marah, namun tidak marah maka ia adalah keledai”.
Kedua, manusia yang memiliki emosi seimbang, tidak terlalu lemah dan tidak terlalu ekstrim amarahnya. Sifat seperti inilah yang disematkan Allah kepada para sahabat, sebagaimana tersirat dalam firman-Nya;

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. 48: 29).

Ketiga, manusia yang ifrath (serba berlebihan), yaitu manusia yang amarahnya melampaui batas sehingga keluar dari kendali akal dan agama. Orang semacam ini tidak dapat berfikir jernih, bahkan terkesan ia seperti orang terpaksa. Selalu berkata-kata kotor dan menebar fitnah serta kebohongan-kebohongan.

Artinya, kalau pun harus marah, maka marahlah dengan wajar, tidak berlebihan dan jangan sampai mendorong lisan berkata buruk, apalagi disertai tindakan ekstrem yang diluar batas akal dan agama. Karena marah termasuk hal yang positif selama tidak keluar dari kaidah iman dan kebenaran.

Meredakan Kemarahan

Lantas, bagaimana jika suatu saat, tiba-tiba muncul situasi yang diluar dugaan dan memancing emosi untuk marah? Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam telah memberikan tips yang termaktub dalam sebuah haditsnya.

“Marah adalah (laksana) batu yang dinyalakan dalam hati. Tidakkah kalian melihat menggelembungnya urat leher dan memerahnya kedua mata orang yang sedang marah? Jika salah satu dari kalian mengalami kondisi seperti itu, maka jika sedang berdiri, duduklah, dan jika sedang duduk, berbaringlah. Jika amarah itu belum hilang juga, maka berwudhulah dengan air dingin dan mandilah karena api tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air.” (HR.Tirmidzi).

Maksudnya, kita tidak boleh terpancing emosi dan berbicara atau bertindak atas dorongan kemarahan. Segeralah ubah posisi tubuh untuk menenangkan hati dan pikiran. Jika ternyata posisi tubuh tidak mampu mengubah gejolak hati, segeralah berwudhu atau mandi. Dengan begitu Insya Allah kita dapat mengontrol hati kita dan terhindar dari perbuatan bodoh, sehingga bisa lebih bijaksana dan lebih siap untuk memberi maaf.

Apabila kemudian memberi maaf menjadi pilihan utama, sungguh kita termasuk hamba yang berhak atas cinta dari Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti yang termaktub dalam firman-Nya,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“....dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan manusia. Dan sungguh, Allah mencintai orang-orang yang ihsan.” (QS.Ali Imron [3]: 134).

Dengan demikian, sudah seharusnya setiap Muslim tidak menjadi objek nafsu, sehingga hati dan akal pikirannya dipermainkan oleh kesombongan yang berakibat pada kemarahan, permusuhan dan dendam. Tetapi sebaliknya, menghidupkan hati dengan gemar memaafkan. Karena siapa memaafkan ia pasti dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Tidakkah kita bangga jika Allah mencintai kita?

Kata Nabi, "Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat memaafkan, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat memaafkan." (HR.Ahmad).*/Imam Nawawi

sumber:http://hidayatullah.com/read/28175/17/04/2013/mudah-memaafkan-dan-cepat-reda-ketika-marah--.html

Ghibah dan Dusta

Sabtu, 13 April 2013 | 08.22

Muslimah dialog simpatik


Ghibah dan dusta merupakan dua hal, yang hampir-hampir menjadi fenomena dalam lingkup kehidupan manusia. Seringkali, di manapun manusia berkumpul dan berbicara, tidak luput dari dua hal ini, atau minimal dengan salah satunya. Jika kita perhatikan di kantor, di pasar, di rumah, di kantin atau di manapun juga, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa minimal ghibah (baca; membicarakan orang lain) menjadi tema sentral pembicaraan mereka.

Padahal, Allah SWT memerintahkan kepada setiap insan untuk berkomunikasi dan berbicara dengan baik. Dalam salah satu ayatnya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا*  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (baik), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."

Ayat di atas menggambarkan kepada kita, adanya korelasi yang kuat antara keimanan (baca; ketakwaan) dengan perkataan yang baik. Seseorang yang memiliki keimanan yang baik, insya Allah secara otomatis akan berkomunikasi dan bertutur kata yang baik. Sementara ghibah apalagi dusta termasuk dalam kategori perkataan yang tidak baik. Bahkan dusta masuk dalam kategori dosa-dosa besar.

Antara Ghibah Dan Dusta
Dari segi bahasa, ghibah berasal dari kata bahasa Arab ‘Ghaba’, yang berarti ghaib (baca; tidak tampak), atau tidak terlihat:
الغيبة لغة مشتق من فعل غاب أو الغيب، وهو كل ما غاب عن الإنسان
Oleh karena itulah, dari segi bahasa, ghibah berarti membicarakan orang lain yang ghaib (baca; yang tidak hadir) di antara orang yang sedang membicarakannya. Baik pembicaraan tersebut mengenai hal-hal yang positif darinya, ataupun yang bersifat negatif.

Adapun dari segi istilah, ghibah adalah pembicaraan yang dilakukan seorang muslim mengenai saudaranya sesama muslim lainnya dalam hal-hal yang bersifat keburukan dan kejelekannya, atau hal-hal yang tidak disukainya.

Sedangkan dusta, adalah kita membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri seseorang yang sesungguhnya sesuatu itu tidak terdapat dalam diri saudara kita tersebut. Sehingga dari sini, perbedaan antara ghibah dengan dusta terletak pada obyek pembicaraan yang kita lakukan. Dalam ghibah, yang kita bicarakan itu memang benar-benar ada dan melekat pada diri orang yang menjadi obyek pembicaraan kita. Sedangkan dalam dusta, sesuatu yang kita bicarakan tersebut, ternyata tidak terdapat pada diri seseorang yang kita bicarakan. Hal ini secara jelas pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah? Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku? Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya. (HR. Muslim)

Dusta dan Ghibah Dalam pandangan Islam
Baik ghibah maupun dusta, sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW:
Mengenai dusta, Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 22: 30):

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ*

‘Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.’
Bahkan dusta ini masuk dalam kategori dosa-dosa besar yang senantiasa harus dijauhi oleh setiap mukmin. Dalam satu riwayat, Rasulullah SAW pernah mengatakan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ (رواه البخاري)

“Dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu tentang dosa-dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar? Kami menjawab, tentu wahai Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Yaitu, menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau berdiri, kemudian duduk, lalu mengatakan lagi, ‘dan perkataan dusta serta persaksian dusta… perkataan dusta dan persaksian dusta….’ Beliau terus mengucapkan itu, hingga aku katakan bahwa beliau tidak berhenti mengucapkannya.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadits-hadits lainnya yang membicarakan masalah ghibah masih cukup banyak. Namun dari kedua dalil di atas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dusta merupakan perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW secara langsung mengkategorikannya pada perbuatan dosa-dosa besar yang paling besar.

Sedangkan mengenai ghibah, sebagaimana dusta, banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang melarangnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam (QS. 49: 12):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*

‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ (رواه أبو داود)

Dari Said bin Zaid RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya riba yang paling bahaya adalah berpanjang kalam dalam membicarakan (keburukan) seorang muslim dengan (cara) yang tidak benar. (HR. Abu Daud)

Kedua dalil di atas telah cukup menunjukkan kepada kita mengenai bahaya ghibah. Dalam ayat (QS. 49: 12) Allah mengumpamakan ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal. Sedangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah SAW mengumpamakannya dengan riba yang paling berat dan berbahaya. Oleh karena itulah, bagi setiap muslim harus berusaha secara maksimal untuk meninggalkan kedua penyakit lisan yang ternyata sangat berbahaya ini. Kita dapat membayangkan, sekiranya setiap hari kita diumpamakan seperti menyantap makanan yang terbuat dari daging saudara kita sendiri? Selain itu kita juga diumpakan selalu berinteraksi dengan riba yang paling berbahaya dan paling besar dosanya di sisi Allah SWT? Na’udzu billah min dzalik.

Kondisi Diperbolehkannya Ghibah dan Dusta
Meskipun demikian, memang ada beberapa kondisi tertentu di mana kita diperbolehkan untuk dusta dan ghibah.

1. Kondisi diperbolehkannya dusta
Dalam hadits dijelaskan oleh Rasulullah SAW mengenai beberapa keadaan di mana seseorang dihalalkan untuk berdusta, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ (رواه الترمذى)

“Dari Asma’ binti Yazid RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Dusta tidak diperkenankan melainkan dalam tiga hal; seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya (lebih mencintainya), dusta dalam peperangan dan dusta untuk mendamaikan di antara manusia (yang sedang bertikai)” (HR. Turmudzi)

2. Kondisi diperbolehkannya ghibah
Dr. Sayid Muhammad Nuh dalam Afat Ala al-Thariq (1996: III/ 52) mengungkapkan ada enam hal, di mana seseorang diperbolehkan untuk ghibah, yaitu:

1. Tadzalum.
Yaitu orang yang teraniaya, kemudian mengadukan derita yang diterimanya kepada hakim, ulama dan penguasa agar dapat mengatasi problematika yang sedang dialaminya. Dalam pengaduan tersebut tentu ia akan menceritakan keburukan orang yang menganiaya dirinya. Dan hal seperti ini diperbolehkan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا*

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2. Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran & mengembalikan orang yang maksiat menjadi taat kepada Allah SWT, kepada orang yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti ulama, ustadz atau psikolog. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim).
Sementara meminta bantuan kepada orang yang lebih mampu, masuk dalam kategori merubah kemungkaran dengan lisan.

3. Meminta fatwa.
Seperti seseorang yang meminta fatwa kepada ulama dan ustadz, bahwa saudaraku misalnya menzhalimiku seperti ini, maka bagaimana hukumnya bagi diriku maupun bagi saudaraku tersebut.
Dalam salah satu riwayat pernah digambarkan, bahwa Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan) mengadu kepada Rasulullah SAW dan mengatakan, wahai Rasulullah SAW, suamiku adalah seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan padaku uang yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, kecuali yang aku ambil dari simpanannya dan dia tidak mengetahuinya. Apakah perbuatanku itu dosa? Rasulullah SAW menjawab, ambillah darinya sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik (baca; ma’ruf)” (HR. Bukhari)

4. Peringatan terhadap keburukan atau bahaya.
Seperti ketika Fatimah binti Qais RA datang kepada Rasulullah SAW dan memberitahukan bahwa ada dua orang pemuda yang akan meminangnya, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Adapun Muawiyah, ia adalah seseorang yang sangat miskin, sedangkan Abu Jahm, adalah seseorang yang ringan tangan (suka memukul wanita).” (HR. Muslim)

5. Terhadap orang yang menampakkan kefasikan & kemaksiatannya, seperti minum khamer, berzina, judi, mencuri, dan membunuh. Terhadap orang yang seperti ini kita boleh ghibah. Apalagi terhadap orang yang menampakkan permusuhannya kepada agama Islam dan kaum muslimin.

6. Untuk pengenalan.
Adakalanya seseorang telah dikenal dengan julukan tertentu yang terkesan negatif, seperti para periwayat hadits ada yang dikenal dengan sebutan A’masy (si rabun), A’raj (pincang), Asham (tuli), A’ma (buta) dsb. Mereka semua sangat dikenal dengan nama tersebut. Jika disebut nama lain bahkan banyak perawi lainnya yang kurang mengenalnya. Meskipun demikian, tetap menggunakan nama aslinya adalah lebih baik. Bahkan jika dengan namanya tersebut dia telah dikenal, maka tidak boleh menggunakan julukan yang terkesan negatif.

Cara Untuk Menghindari Dusta dan Ghibah
Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga dengan penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah memberikan berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini, di antaranya adalah:

1. Dengan meningkatkan rasa ‘muraqabatullah’ yaitu sebuah rasa di mana kita senantiasa tahu, bahwa Allah sangat mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada di antara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggungjawabannya dari Allah SWT kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman (QS. 50: 18):

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ*

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayun (baca; mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 49: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ*

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

5. Beramal & berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, di lingkungan kerja, di rumah, di kantin dsb, dengan membuat kesepakatan dan ketauladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kita pun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Himbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Membiasakan diri untuk bertanya sesegera mungkin manakala melihat adanya fenomena seseorang yang berbuat sesuatu yang melanggar syariat, hingga kita tidak terjerumus pada keghibahan.

9. Mengajak umat secara keseluruhan untuk menghindari diri dari penyakit ini, dengan cara tidak membicarakan orang lain, tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

10. Mengingat-ingat kembali, tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

Penutup
Kita yakin bahwa setiap insan pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat. Dan kemaksiatan yang paling mudah menjerumuskan setiap insan adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan di antara kemaksiatan lisan adalah dusta dan ghibah. Padahal kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar. Dusta, adalah dosa besar yang paling besar, yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua. Sementara ghibah Allah umpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Jadi betapa besarnya dosa kita jika setiap hari kita ‘mengkonsumsi’ dusta dan ghibah?

Oleh karena itulah, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah & dusta, semampu kita. Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tangannya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam Bis Shawab.

Rasulullah Malah Tawarkan Bantuan kepada Pembantu

Rabu, 10 April 2013 | 15.18

  


كَانَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِمَّا يَقُوْلُ لِلْخَادِمِ: أَلَكَ حَاجَةٌ؟ -أحمد

Artinya: Dari apa-apa (yang banyak) dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau,”Apakah engkau memerlukan sesuatu?” (Riwayat Ahmad, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Dalam periwayatan yang lengkap disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menawarkan bantuan kepada pembantu beliau, hingga suatu saat sang pembantu menjawab,"Saya memerlukan agar Anda memberi syafaat untuk saya di hari kiamat." Dan Rasulullah pun mengiyakan, namun meminta kepada pembantu beliau itu untuk memperbanyak sujud.

Ibnu Arabi menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segala persoalan (Faidh Al Qadir, 5/229). Bagaimana tidak, perkataan yang biasa disampaikan oleh pembantu kepada majikan seperti,”Ada yang perlu saya lakukan?”, “Ada yang bisa saya bantu?” atau ungkapan lainnya malah disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau.

Nah, jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam amat memuliakan pembantu dan tidak merendahkan mereka, bagaimana dengan sikap kita terhadap pembantu?


sumber:http://hidayatullah.com/read/27577/06/03/2013/rasulullah-pun-tawarkan-bantuan-kepada-pembantu.html

Agar Pernikahan Berlimpah Barakah

Minggu, 07 April 2013 | 11.19



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

TAK ada yang lebih berharga dalam rumah-tangga kecuali pernikahan yang penuh barakah. Tak ada yang lebih patut kita harapkan dalam pernikahan melebihi barakah. Inilah yang Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam tuntunkan kepada kita. Sesungguhnya, barakah adalah kebaikan yang sangat banyak, kebaikan yang berlimpah, kebaikan yang bertambah-tambah. Jika pernikahan kita berlimpah barakah, maka bahagia pasti akan menyertai. Sebaliknya, pernikahan yang bahagia, belum tentu ada barakah di dalamnya.

Jika Allah Ta'ala berikan barakah, maka apa yang tampaknya merupakan kesulitan, maka ia akan menjadi jalan kebaikan. Apa yang tampaknya berat, mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, jika Allah Ta'ala mencabut barakah dari pernikahan, maka apa yang saat ini mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan akan menjadi jalan datangnya keburukan di kemudian hari. Itu sebabnya, kita harus senantiasa mengharap barakah Allah 'Azza wa Jalla dan berusaha untuk menempuh jalan yang penuh barakah.

Semoga Allah Ta'ala berikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Kita memohon petunjuk dan kekuatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala untuk mampu melaksanakan apa yang telah ditunjukkan-Nya.

Sesungguhnya nilai setiap amal sangat tergantung kepada niatnya. Jika niat kita benar dan mulia, maka hal-hal mubah yang kita kerjakan dalam rangka meraih kemuliaan tersebut, akan terhitung sebagai kemuliaan juga. Sebaliknya, apa-apa yang diwajibkan maupun disunnahkan dalam agama ini, jika melakukannya bukan karena niat yang benar, maka kebaikan tersebut tak berharga di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Nikah merupakan salah satu sunnah Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Yang dimaksud sunnah dalam hal ini adalah sesuatu yang dicontohkan dan sekaligus diperintahkan dengan perintah yang jelas dari Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Jika kita menikah karena ingin memuliakan sunnah, maka Allah Ta'ala akan limpahi barakah dalam pernikahan kita. Karena itu, kita perlu membenahi niat, terutama saat menjelang nikah agar niat kita lurus. Kita menikah karena ingin mengikuti sunnah Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Bukan sekedar karena sudah sangat ingin menikah.

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” (HR. Ibnu Majah).

Maka, niat perlu ditata, tujuan perlu dibenahi. Selebihnya, kita perhatikan apa-apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam terkait dengan nikah, utamanya pada masa pengantin baru. Saya hanya membahas apa-apa yang jarang dibahas, tetapi sangat penting bagi kebarakahan pernikahan. Artinya, ada banyak hal lain yang perlu dipelajari dan tidak saya sampaikan pada kesempatan kali ini mengingat sempitnya waktu serta mempertimbangkan apa yang paling penting berkait dengan barakahnya pernikahan.

Yang pertama, disunnahkan bagi kedua mempelai berdo'a memohon barakah bagi pernikahannya serta meminta do'a kebaikan dan kebarakahan kepada kaum muslimin. Sesungguhnya selain untuk mengumumkan kepada masyarakat dan berbagi kegembiraan, walimah juga merupakan sarana untuk meminta do'a kepada kaum muslimin. Dan tidak ada do'a yang lebih utama untuk orang yang baru menikah, melebihi do'a barakah sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

 بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ

"Semoga Allah memberkahimu, dan semoga memberkahi atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan." (HR. At-Tirmidzi).

Inilah do'a yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam: ringkas, padat dan mencakup semua yang terbaik dalam pernikahan. Sebagian orang menyusun do'a yang lebih panjang, tetapi kurang tepat dari segi kesiapan kita untuk menjalani andaikata dikabulkan sepenuhnya, disamping kurang mencakup segala kebaikan yang kita harapkan. Ini misalnya dapat kita temukan pada do'a yang mulai kerap diucapkan dalam beberapa perhelatan pernikahan belakangan ini. Sepanjang pemahaman saya, do'a yang dituntunkan Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam merupakan contoh terbaik. Bukan terlarang berdo'a dengan kalimat sendiri, tetapi hendaknya tidak sampai berlebihan dalam berdo'a.

Tentang berlebihan dalam berdo'a, berkenanlah untuk membaca catatan lain bertajuk Bahkan Ia Masuk Ke Jantung Kita di Facebook page ini juga.

Yang kedua, kita mendapati dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Ath-Thabrani dan Ibnu Majah bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menikah dengan Fathimah radhiyallahu 'anha (putri Nabi), maka pada malam pengantin baru sebelum kedua mempelai dukhul (bermalam bersama), Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam meminta air wudhu (beliau berwudhu), menuangkannya pada 'Ali, lalu mendo'akan keduanya:

اَللَّهُمَّ بَـارِكْ فِيْهِمَا، وَبَارِكْ لَهُمَا فِيْ بِنَـائِهِمَا

Ya Allah, barakahilah keduanya dan berkahilah keduanya dalam percampuran keduanya.
Sekali lagi, ini memberi pelajaran berharga bagi kita betapa yang paling patut diharapkan, dimohonkan dengan penuh kesungguhan dan diupayakan oleh orangtua yang menikahkan anak pun adalah barakah bagi pernikahan tersebut serta percampuran yang terjadi di antara keduanya. Semoga tidaklah lahir dari pernikahan tersebut kecuali keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Yang ketiga, sunnah bagi mempelai laki-laki sebelum bermalam pertama untuk berdo'a dengan memegang ubun-ubun istrinya dengan do'a:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِمَـا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan watak yang telah Engkau jadikan padanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang telah Engkau jadikan padanya." (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah).

Merawat Cinta
Ada dua hal yang harus kita tumbuhkan dalam rumah-tangga, yakni qaulan ma'rufah (cara komunikasi yang penuh perhatian) da mu'asyarah bil ma'ruf (mempergauli dengan baik). Di luar dua hal yang sangat penting tersebut, ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Saya memilih untuk lebih menjelaskan tentang dua hal berikut ini, karena pembahasan tentang qaulan ma'rufan dan mu'asyarah bil ma'ruf sudah banyak terdapat dalam berbagai buku.

Dua hal tersebut adalah tentang keselarasan ruhiyah kita dan kebarakahan rezeki.

Renungilah sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

"الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ"
“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu & yang saling mengingkari akan berselisih.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ruh kita sangat dipengaruhi oleh niat kita, orientasi hidup kita, 'ibadah kita dan tujuan hidup kita. Boleh jadi kita sering bersama-sama melakukan amalan yang baik, tetapi jika niat masing-masing dari kita berbeda, maka akan berbeda pula ruhiyah kita. Maka, hendaknya kita saling mengingatkan, saling menasehati dan saling menjaga iman agar tak terjatuh pada kemaksiatan yang sangat besar.

Mari sejenak kita renungi ucapan Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa 'alaa `alihi wa shahbihi wa sallam:

"مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي الله جل وعز أو في الإِسْلامِ , فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا"
“Tak akan berpisah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah Jalla wa ‘Azza atau karena Islam, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Ini bukanlah hadis tentang suami-istri. Ini adalah hadis tentang dua orang yang saling berkasih-sayang karena Allah Jalla wa 'Azza atau karena Islam, sehingga cakupannya lebih umum. Akan tetapi kita juga dapat mengambil pelajaran penting bahwa suami-istri yang menikah karena Allah Ta'ala demi menegakkan dakwah, dapat berpisah (bahkan dalam keadaan bermusuhan) tanpa terelakkan oleh keduanya manakala salah satu di antara mereka terjatuh pada dosa-dosa besar yang berlarut-larut. Maka, betapa perlu kita saling mengingatkan agar tak ada yang terjatuh pada keburukan yang besar, berbuat zalim atau --apalagi-- melakukan kesyirikan.

Ketika seseorang terjatuh pada dosa besar yang berlarut, boleh jadi rumah-tangga mereka tidak pecah dan keduanya tak saling berpisah. Mereka senantiasa bersama-sama karena keduanya sama-sama saling membantu dalam dosa besar tersebut. Na'udzubillahi min dzaalik. Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari hal-hal yang demikian.

Adapun berkait dengan rezeki, maka yang senantiasa perlu kita minta dan usahakan adalah rezeki yang barakah. Jika rezeki barakah, sedikitnya membawa kebaikan, berlimpahnya juga melapangkan hati dan membawa kebaikan. Itu bukan berarti kita tidak boleh meminta rezeki yang berlimpah. Tetapi jangan pernah memisahkannya dengan memohon barakah.

Kita dapat berdo'a dengan ini, misalnya:

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii"

"Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta barakahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku."
Kita memohon rezeki yang berlimpah barakah dan anak banyak yang juga penuh barakah dengan bercermin pada do'a Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam kepada Anas radhiyallahu 'anhu tatkala Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha (ibu dari Anas) mengantarkannya ke hadapan Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam untuk menjadi pelayan beliau. Maka Rasulullah shallaLahu 'alai wa sallam mendo'akan:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta barakahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mendo'akan dengan:

اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا، وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ

"Ya Allah, tambahkanlah rezeki padanya berupa harta dan anak serta barakahilah dia dengan nikmat tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga catatan ini bermanfaat. Kepada Allah Ta'ala saya memohon ampun. Dan kepada-Nya kita memohon perlindungan dan penjagaan dari keburukan kita sendiri, dari hidup yang tidak barakah, dari hilangnya barakah pernikahan dan dari terhapusnya barakah rezeki.*

Penulis buku-buku parenting, kolumnis Majalah Suara Hidayatullah. FB: Mohammad Fauzil Adhim, twitter: @kupinang

 sumber:http://hidayatullah.com/read/27973/03/04/2013/agar-pernikahan-berlimpah-barakah.html

Apakah Allah Ridha dengan Pekerjaanku?

Minggu, 31 Maret 2013 | 08.14


"Apakah uangku halal dan diridhoi Allah?"




SYU”AIB bin Harb berkata: “Jangan menyepelekan uang receh yang engkau dapatkan dengan cara menaati Allah di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Dari pesan di atas bisa diambil benang merah jika baik buruknya suatu perkerjaan di mata Allah bukanlah dinilai dari besar kecilnya gaji yang diperoleh, akan tetapi dari cara kita melakukannya. Pertanyaan mendasar yang harus dicamkan adalah, “Apakah Allah ridha dengan pekerjaan saya ini?” Inilah cara berpikir seorang Muslim, sebagaimana diajarkan Nabinya; bukan menuruti logika materialis ateis yang hanya mengedepankan pragmatisme.

Cara berpikir pragmatis tak bertuhan inilah yang membuat sebagian orang dengan berani menyebut perzinaan sebagai “pekerjaan”, seolah-olah hendak menyamakannya dengan profesi guru, petani, pedagang, advokat atau birokrat. Bukankah sebagian besar kita telah terbiasa menyebut Pekerja Seks Komersial, dibanding menyebut pelacur atau pezina? Astaghfirullah!
Bekerja mendapatkan rezeki yang halal adalah kebajikan, apapun bentuk dan derajatnya di mata manusia. Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai salah satu kewajiban bagi umatnya. Beliau bersabda, “Mencari yang halal adalah kewajiban setiap Muslim.” (Riwayat Thabrani dalam al-Awsath, dari Anas bin Malik. Menurut al-Haitsami: isnad-nya hasan).

Dengan demikian, pekerjaan yang halal sama dengan beribadah. Setiap tetes keringat akan dihargai dengan pahala berlipat ganda. Apapun yang dihasilkannya menjadi berkah, dan semakin menguatkan tali perhubungan dengan Sang Pencipta. Rasulullah bersabda,

“Sungguh, tidaklah engkau memberikan nafkah yang dengan itu engkau mengharapkan wajah Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala, bahkan terhadap (sesuap makanan) yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash).

Pekerjaan kasar yang mengandalkan otot sama mulianya dengan pekerjaan intelektual, asalkan halal. Dan, tentu saja bekerja jauh lebih baik dibanding mengemis, sesulit apa pun caranya.

Anas bin Malik bercerita, bahwa seseorang dari kaum Anshar datang kepada Nabi untuk meminta-minta. Beliau pun bertanya, "Tidak adakah sesuatu apa pun di rumahmu?" Ia menjawab, “Ya, ada. Kain alas pelana yang sebagian kami buat pakaian dan sebagian lagi kami hamparkan (untuk tikar), serta gelas besar yang kami gunakan untuk minum.” Beliau bersabda, "Bawalah keduanya kepadaku." Ia kemudian membawanya. Beliau mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata, "Siapa yang mau membeli kedua barang ini?" Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan satu dirham.” Beliau berkata, "Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?" Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan dua dirham.” Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uangnya kepada orang Anshar itu dan bersabda, "Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah (mata) kapak lalu bawalah kepadaku." Orang itu membawa (mata) kapaknya kepada Nabi, lalu mengikatkan sebatang kayu padanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau bersabda, "Pergilah, kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari." Orang itu pun pergi mencari kayu serta menjualnya, lalu datang lagi dan telah memperoleh uang sepuluh dirham. Sebagian ia belikan pakaian, sebagian lagi makanan. Kemudian Rasulullah bersabda, "Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta itu kelak berubah menjadi noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sungguh, meminta-minta itu tidak layak kecuali bagi tiga (jenis) orang, yaitu: orang fakir yang sangat melarat, atau orang yang terbebani hutang sangat berat, atau orang yang menanggung diyat (biaya tebusan atas pembunuhan) sementara ia tidak mampu membayarnya." (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).


Sebaliknya, pekerjaan yang terkesan mentereng dan bergaji besar, sangat boleh jadi hanya akan menjadi beban dosa dan kehinaan jika tidak diridhai Allah. Dari waktu ke waktu hanya akan memicu kegersangan, kekacauan, dan berakhir sebagai siksa tak terperikan. Semakin digeluti semakin menggelisahkan, sebab dosa-dosanya semakin menumpuk. Dalam tafsir Zaadul Masir dikatakan bahwa pekerjaan yang haram adalah bagian dari siksa Allah, yaitu “kehidupan yang sempit” sebagai akibat dari kelalaian, keberpalingan, dan meninggalkan tuntunan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya bisa melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." (QS: Thaha [20]: 124-126).

Dengan kata lain, menurut Islam, kehidupan yang lapang, pertama-tama bukan diukur dari lapangnya materi, namun dari aspek keselarasan kehidupan itu dengan tuntunan Allah. Baru setelahnya, aspek-aspek lain mengikuti. Entah melarat atau kaya-raya, jika kehidupan seseorang tidak sejalan syari’at, maka layak disebut sebagai “kehidupan yang sempit”. Sama juga, apakah fakir atau serba berkecukupan, kehidupan yang mengikuti aturan Allah adalah “kehidupan yang lapang”. Wallahu a’lam.*  
(M. Alimin Mukhtar, pengajar di Ar-Rahmah Boarding School, Pesantren Hidayatullah Malang)


sumber:http://hidayatullah.com/read/27503/01/03/2013/bertanyalah-dalam-hati:-apakah-allah-ridha-dengan-pekerjaanku-saat-ini?.html

Ketika Derita Tak Terasa

Rabu, 27 Februari 2013 | 19.53


Sehubungan dengan apa yang tidak disukainya, seorang hamba boleh menempati salah satu dari dua derajat ini; Ridla atau Sabar. Ridla adalah yang lebih utama. Adapun sabar hukumnya wajib bagi setiap insan yang beriman.

Mereka yang ridla adalah mereka yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Dzat yang mendatangkan ujian. Mereka tidak berburuk sangka kepadaNya. Di saat yang lain, ia menghayati betapa Dia Maha Agung, Maha Mulia, dan Maha Sempurna. Ia terhanyut dalam persaksian-Nya atas semua itu, sehingga ia tidak lagi merasakan derita. Hanya saja, hanya mereka yang benar-benar berma'rifah dan bermahabbah saja yang dapat mencapai tingkatan ini. Mereka -bahkan- dapat menikmati musibah yang menimpa mereka, karena mereka tahu bahwa musibah itu datang dari Dzat yang dicintainya. .

Sabar berbeda dengan ridla. Sabar adalah menahan diri dari amarah dan kekesalan ketika merasa sakit sambil berharap derita itu segera hilang. Ridla adalah berlapang dada atas ketetapan Allah dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walaupun ia merasakannya. Keridlaannya meringankan deritanya. Karena hatinya dipenuhi oleh ruh yakin dan ma'rifah. Bila ridla semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.[]





Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Pembuka Pintu-Pintu Langit

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas.

Nabi SAW bersabda,

“Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.

Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “Bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. 


Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya. 

[madinatulilmi.com]

Menghitung Harga Nafas Kita


Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.

Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.

Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.

Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.

Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah,“katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

*)Syaefudin. Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

Sawang Sinawang : Ilusi Kebahagiaan


Oleh Cahyadi Takariawan*

Suatu siang di Malioboro….. Seorang lelaki paruh baya, badannya kurus, kulitnya coklat kehitaman. Rambutnya tipis dan memutih, matanya cekung, tampak garis-garis di kening dan keriput di kulitnya, menandakan ia sarat dengan beban kehidupan. Duduk termenung di atas becak tua, tempat ia menggantungkan penghidupan keseharian di Malioboro, tengah Kota Jogjakarta. Kayuhan kaki yang rapuh, pada becak yang telah tigapuluh tahun menemani perjalanan hidupnya itulah yang akan memberikan sedikit harapan bagi keluarga.

Duduk menunggu dari pagi, berharap segera ada penumpang. Hingga menjelang siang, tak satupun penumpang datang. Seperti biasanya, iapun tetap tenang dan dengan sabar menunggu penumpang.

Dari kejauhan ia memandang sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Tampak sangat mewah dalam pandangannya. Pastilah mobil itu milik seorang yang kaya raya, dengan segala kemewahan hidupnya. Ia membayangkan betapa enak menjadi orang kaya. Rumahnya luas dan indah, mobilnya mewah, isterinya cantik dan terawat, anak-anaknya berpakaian serba bagus. Ia melamunkan kondisi rumahnya sendiri yang reot, tak ada perabotan di dalamnya, isterinya kurus kering didera beban kehidupan, anak-anak berpakaian seadanya.

Matanya berkaca-kaca… Andai saja ia bisa membahagiakan keluarganya seperti pemilik mobil mewah itu…..

Pikirannya melayang-layang jauh ke langit, membawa dirinya pergi ke alam mimpi. Mengantuk, perlahan-lahan iapun tertidur pulas di atas becaknya.

Sang Pejabat yang Galau

Alkisah, di dalam mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu, duduklah seorang lelaki berpakaian rapi. Mengenakan jas dan dasi, menandakan ia seorang pejabat. Ia duduk di bangku belakang sendirian. Di bangku depan, ada seorang sopir yang berpakaian rapi dan berperilaku sopan. Mobil tengah berjalan pelan di kepadatan lalu lintas Malioboro, tengah kota Jogjakarta.

Berhari-hari sang pejabat memikirkan sebuah proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Ada terlalu banyak masalah dalam pelaksanaan proyek itu. Dana yang tidak sesuai anggaran, pelaksana proyek yang mengerjakan asal-asalan, belum lagi banyaknya setoran yang harus diberikan ke berbagai pihak. Salah-salah ia terancam penjara dan kehilangan jabatannya. Beberapa malam terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak. Lelah, penat, dan tidak tenang pikiran dan hatinya.

Dari dalam mobil sang pejabat melihat deretan becak-becak di pinggir trotoar Malioboro. Matanya menatap seorang lelaki tengah baya, berkulit coklat kehitaman, berpakaian seadanya. Lelaki itu tampak tertidur pulas di atas becaknya, seperti tidak memiliki beban apa-apa.

Ia membayangkan, betapa damai hati tukang becak itu. Walaupun hidup di kampung dengan kondisi sederhana, namun bisa menikmati hidupnya. Mungkin isteri dan anak-anaknya hidup sangat sederhana, namun toh mereka bisa merasa bahagia dengan apa yang ada. Dibandingkan dengan kondisi dirinya yang memiliki berbagai fasilitas kemewahan, namun semua justru menimbulkan beban pikiran dan tekanan perasaan. Ia merasa tidak bisa menikmati kebebasan dan kebahagiaan.

Mata sang pejabat berkaca kaca…. Andai saja ia bisa merasakan ketenangan dan kedamaian perasaan seperti yang dialami tukang becak itu…. Betapa nyenyak tidurnya. Tubuh tukang becak yang kurus itu tampak tertekuk di atas jok becak, dan lihatlah betapa pulas tidurnya…. Betapa bahagia jika bisa tidur nyenyak seperti itu….

Sawang Sinawang : Ilusi Kebahagiaan

Begitulah kehidupan berjalan. Seseorang akan selalu melihat kondisi orang lainnya. Membandingkan, mengandaikan, membayangkan, mengkhayalkan….. “Andai saja aku bisa seperti dia, betapa bahagianya….” Orang Jawa menyebut, hidup itu “sawang sinawang”, saling melihat kepada yang lain.

Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mengharapkan sesuatu yang tidak nyata. Ia mengkhayalkan sesuatu yang bukan dirinya. Ia membayangkan posisi yang bukan haknya. Ia terus dikejar keinginan yang tidak pernah kesampaian. Ia mengejar kebahagiaan seperti yang ia lihat pada orang lain. Ia mencari kebahagiaan sebagaimana ia saksikan pada banyak kalangan manusia.

Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mencari dari orang lain. Ia tidak masuk ke dalam dirinya sendiri, dan menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Harusnya ia selalu menikmati semua yang ada. Merasakan kasih sayang Tuhan dalam setiap kejadian yang menimpanya. Menghayati kehidupan dari semua pemberian Tuhan yang didapatkan setiap hari. Sedikit atau banyak, itu tinggal cara kita menghitungnya.

Becak atau mobil mewah, itu hanya benda-benda, sama dengan benda lainnya. Orang bosan setiap hari naik mobil mewah, ia akan merasa bahagia suatu ketika naik becak di Jogjakarta. Orang bosan setiap hari naik becak, ia akan merasa bahagia naik mobil suatu ketika. Karena mobil mewah dan becak hanyalah benda-benda. Bukan di situ letak bahagia.

Jabatan, posisi, kedudukan itu hanyalah atribut kehidupan, sama dengan atribut lainnya. Orang mengira posisi di atas dirinya itu yang membahagiakan. Padahal posisi yang diinginkan itu hanyalah atribut kehidupan. Asesoris kehidupan, sama dengan asesoris yang lainnya. Bukan di situ letak bahagia.

Bahagia itu letaknya di dalam jiwa. Bukan pada benda-benda. Bukan pada atribut dan asesoris kehidupan. Maka carilah kebahagiaan dengan menyelam ke dalam jiwa kita sendiri. Bukan dengan mengkhayalkan hak orang lain yang tidak kita miliki. Jika anda terus mencari-cari kebahagiaan kepada benda-benda, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia. Jika anda terus menerus mencari kebahagiaan kepada atribut-atribut, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia.


*http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/ilusi-kebahagiaan-tukang-becak-dan-sang-pejabat/

Post Terpopuler

Arsip Blog

Total Tayangan Halaman

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. )|( PKS Bae Kudus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger